Seni Awal Penciptaan
Diri-diri
saling membumbung menanggalkan tanggal-tanggal
Menyeka
batas-batas normal demi keintiman awal penciptaan
Dalam
desah yang basah
Dalam
resah yang payah
Getaran
yang menggunjing inti hidup menggemparkan selongsong otak di kulit
Menjalar
bag lilitan ular yang menusuk-nusukkan bisanya yang basa
Dua
desah saling beradu dalam ruang yang dipenuhi kunang-kunang
Terbaring
bersama cengkraman nafsu yang rakus
Semak-semak
terbelai, lilitkan getar-getar yang dipenuhi lendir-lendir surgawi
Meresah
dalam pasrah, desah basah menggeledah gundah yang payah
Rentetan
penusukan dari segala arah mengalirkan anyir-anyir, berkunang-kunang
Menelan
ribuan awal kehidupan dalam satu tenggakkan yang getir
Mengalir-alir
dalam rona wajah yang kepayahan namun terlamun senyum
Di
ujung puncak malam yang dipenuhi gerah berdarah
Awal
dari kehidupan masih bisa berlangsung dalam kurungan dan ikatan nyata
Dan
menyibak belukar-belukar yang menyekarkan nafsu yang tertimbun lelah
Tautkan
lagi rentetan tusukkan yang akan membawa surga ke dalam pangkuan
Surga
tak pernah dan tak akan pernah berakhir dalam alur malam yang sama
Yang
mengabadi dalam kurungan masa yang bisa diputar-balikkan
Hingga
mengabadi bersama kenyataan yang berbalut lendir-lendir
Dan
lahirlah satu kehidupan yang tabu
No comments: