Header Ads

Antrean Baca
recent

GARIS KEBETULAN


Tersadar dalam semesta yang maha luas ini dan menyandang gelar sebagai seorang manusia yang memiliki milyaran pemikiran yang tak kalah dengan luasnya semesta ini. Malam demi malam yang menjalar di setiap hari bagaikan cermin yang menangkap dan memantulkan pola pikir dari jiwa dan batin ini. Semua yang tergaris, semua yang berjajar, dan semua yang beraturan berkata bahwa semuanya telah diatur oleh sang Master, sang pencipta dan sutradara dari semesta ini. Dan segala tingkah laku manusia tak ubahnya bomb waktu yang secara sepihak akan meledakkan atau terjinakkan oleh sang pembuat.
Apa-apa yang terjadi, telah terjadi, akan terjadi semuanya telah dipahat dalam lamunan langit yang memebentangkan imaji bagi setiap penikmatnya. Hingga layu dan terbuai dengan aroma yang turun dari langit, manusia adalah bidak yang sudah digariskan awal dan akhirnya, untuk kemudian ditertawakan dan dihancurkan demi menebus apa-apa yang telah dipahat di awal tanpa kompromi. Dan jika beralasan selama hidupmu telah banyak tersebar lembaran-lembaran petunjuk jalan, kenapa tak kau itu selembaran itu? Jawabannya ada di ujung langit. Apa boleh hanya sekedar mengintip akhirnya saja, atau tahu apa-apa saja yang ada di jalan hidup, jika hal itupun juga sudah terpahat diawal tanpa ada sanggahan sebagai manusia normal.
Memang pada akhirnya manusia mungkin hanya akan menjadi makhluk yang tak bermanusia lagi, namun segala atribut dasar manusia tetap tak akan tertanggalkan, iyakan?. Garis-garis yang lurus, garis-garis yang bengkok, tanpa kuasa apapun manusia hanyalah makluk yang lemah tanpa hikmah. Satunya-satu yang akan tersisa hanyalah penyesalan dan rasa sakit yang akut di dunia awal, di dunia tengah, di dunia akhir semuanya telah terpahat.
Boleh saja berpikiran itu semua bisa dirubah karena saat ini kitalah yang memegang kendali atas diri kita, tapi apa benar kita memegang kendali atas diri kita jika seluruh aspek kehidupan telah dipahat bag jalur yang harus dan pasti di lalui tanpa ampun. Saat berpikirpun, benarkah pikiran-pikiran tersebut datang murni dari otak dan hati? Apa tidak datang dari jalur pahatan yang telah diukir di awal tadi, manusia hanyalah calon daur ulang api neraka yang sejatinya tak punya kendali untuk dan hak untuk sekedar mencium aroma surga yang digadang-gadang dipenuhi surga duniawi, karena manusia memiliki atribut yang sudah tertanam  sejak lahir dan menjadi bongkahan yang menyusahkan, yakni hati.

No comments:

Powered by Blogger.