Header Ads

Antrean Baca
recent

Cara Membuat Masa Depan


Pastinya pernah akupun terduduk-duduk dengan gadu yang dipangku telapak tangan kiriku sembari menikmati imaji bersama hembusan angin senja yang jingga. Dalam imaji itu mataku menembus segala batas normal manusia hingga membuat ku sedikit miring karena beban-beban yang rasanya semakin berat bergelayutan di punggung tak kekarku.
Dalam jalan imajiku itu, sempat terlintas bahwa masa depan adalah serangkaian kata fiktif yang tak akan pernah ada sama sekali karena aku hidup untuk masa kini, bukan masa depan. Pernah ku dengar bahwa sahnya hidup masa kini itu masa depan kita, lantas bagaimana jika masa depan itu tak pernah kau dapati dalam jejakmu menapaki masa kini. Bukankah sudah pasti bahwa saat tertidur adalah gerbang awal menuju kematian yang menyekat masa depan, boleh saja kita percaya bahwa besok kehidupan masih merangkul di jasad agar segala tindakan yang kita lakukan di masa kini selalu baik.
Di masa kini, saat kita melangkahkan kaki-kaki kecil kita, itu adalah pijakan awal menuju masa depan itu sendiri, masa depan hanyalah dugaan-dugaan kecil dari pijakan kaki-kaki yang terakumulasi oleh imaji hingga kita percaya bahwa masa depan itu selalu ada ujung dan saat telah kita melewatinya, baru akan tersadar saat menengok ke belakang, bahwa masa sekarang ini adalah masa depan itu sendiri. Batas antara masa depan dan masa kini adalah saat gelap menyelimuti seluruh organ tubuh yang kelelahan setelah seharian beroperasi.

Di saat aku terduduk-duduk dalam nuansa ceria, satu penglihatan terlihat oleh mataku, sebuah goresan usang dalam selembar kucel kertas, How To Make A ..... Dalam nikmat alunan musik angin senja itu, terlintas di benak, bagaimana cara membuat masa depan? Imajiku berkeliaran di biru langit yang ku pandangi cukup lama, hingga imajiku membentur langit-langit otakku, tanpa pikir panjang ku remas kertas itu dan ku lempar begitu saja. Sejenak kemudian terlintas di benakku, cara membuat masa depan adalah dengan meremas-meremasnya lantas membuangnya, biarkan sang angin yang akan menuntun gumpalan kertas itu dan yakin bahwa selama angin itu menuntun ke arah kebaikan maka ikuti dan nikmati, namun jika anginnya membawa pada lembah becek nan kotor, maka tulis lagi di kertas lain dan remas lagi hingga angin yang membawa keabaikan akan datang menuntun.

No comments:

Powered by Blogger.