Pemakaman Hati
Di
sini ku letakkan sepenggal daging yang selama ini hanya ku kunyah
Tak
mau ku telan karena terlalu menjijikan untuk dirasa
Bangkai
yang membujur di kepala membusuk menusuk-nusuk hati hingga kusut
Kusut
terlilit belit neraca yang membawa beban, yang condong ke arah kematian
Saat
malam tiba dengan mendung yang berangin parau
Kaki-kaki
yang berdiri di atas pekuburan hatiku hanya melontar doa-doa kosong
Hingga
bangkai hati berbelatung dan semakin membusuk, doa-doa kosong tak akan berarti
Di
sekitaran ku lihat pun banyak orang-orang tertunduk dengan berbagai topeng
Yang
mengalirkan air mata karena hatinya tlah mati
Termasuk
aku yang tengah berdiri di pemakaman hatiku
Yang
bertabur bunga-bungan bangkai dengan aroma yang menyengat duka
Duka-duka
yang masih segar masih bisa ku rasa di atmosfir kelam ini
Rasanya
sisa hati ini akan sangat lama untuk bisa pulih dari rasa duka
Mungkin
hanya di sinilah tempat terbaik untuk mengubur hati yang tlah mati
Dan
mengais-ngais kotoran hati dari orang lain untuk ku tempel di jiwaku
Pemakaman
hati, peluklah hatiku yang telah mati dengan tanahmu yang kerontang
Dan
rawatlah hatiku dengan belatung-belatungmu yang menjijikan
Pemakaman
hati, jagalah hatiku hingga tumbuh hati baru di tubuhku
No comments: