TAK KUNJUNG MATI
Kurasa
yang ada hanyalah lendir busuk yang tertinggal
Yang
keluar dari telinga tuli, yang busuk lagi jijik
Hingga
tak ada lagi janji-janji lalu yang menjerit hingga pekik
Dan
hidung-hidung yang tersumbat oleh ingus-ingus busuk yang membatu
Dimana
upil mengeras hingga sesak yang merusak
Hingga
tak ada lagi aroma bangkai yang tercium dari ujung janji-janji lalu
Lalu
hilang bag belatung yang kehilangan kotorannya
Dan
lalu datang bag cacing yang merindukan belaian dingin sang dewi bumi
Mereka
tak pernah mati dan tak akan mudah mati
Semua
sama saja, meski pada awalnya perawan suci yang intim putih
Dalam
kurungan waktu akan terobek juga selaput yang menyucikan diri
Hanyut
dalam buaian waktu yang hembuskan semilir surgawi dunia
Hingga
tangan-tangan kotor dan mengotori perut-perut yang dipikul
Yang
ada hanyalah lendir yang menyetubuhi hingga lubang-lubang
Kurasa
yang tersisa hanyalah bengis amis yang pantas ditebas hingga ludes
Tak
kunjung mati
Tak
kunjung dikunjungi kalung sabit yang mengkalutkan hati-hati
No comments: