Header Ads

Antrean Baca
recent

Para Pencabul Nyawa


Bulan ini, catatan kecil ini adalah sedikit rekaman dari lebih sepekan para Pencabul Nyawa berkeliaran di seantero jagad raya yang katanya Nusantara. Lelaki-lelaki yang angkuh akan keperkasaannya menajadikan bulan ini sebagai bulan terkelamnya para penyandang gelar wanita gadis. Layar-layar biru ramai menyoroti kelakuan buruk para lelaki yang dengan bengisnya mengatasnamakan setan tega mencabuli nyawa-nyawa yang masih ranum dalam inangnya. Sendirin atau berkelompok mereka menyergap para penyandang gelar wanita dan menyeretnya ke dalam gelap yang pekat hingga membutakan mata, tawa-tawa yang menjijikan menghiasi proses menuju kematian yang menyakitkan jiwa raga.
Siapa hati yang tak mengeleng-gelengkan kepalanya mendengar dan mendapati kejadian yang luar biasa biadabnya ini, bahkan melebihi rasa jijik membayangkan memuntahkan belatung dari dalam mulut yang telah lama mengidap rasa benci terhadap sesuatu. Para pencabul nyawa dengan cara-cara yang memikat pekat bisa dengan begitu mudah menyabuli nyawa-nyawa tanpa pernah sedikitpun melirik akan masa depannya ataupun masa depan sang korban. Yang ada hanyalah memuncratkan lendir-lendir surgawi di atas kesakitan dan gelak tawa bersama sebagai simbol kebersamaan. Kebersamaan dalam kehancuran dan kebersamaan dalam menghancurkan.
Para pencabul nyawa bukanlah milik lajang-lajang yang telanjang akan keberadaan diri dan hatinya, namun para bocah ingusan yang kehilangan ingusnya juga menyandang gelar sang pencabul nyawa, yang menambah rasa teriris miris akan moral-moral yang semakin tergerus oleh sang pembesar mereka sendiri. Para pembesar saling terjerat oleh jerat-jerat yang menjerat hati mereka masing-masing. Satu mengingikan kematian sebagai doa terindah di ujung rasa benci, yang lainnya mengharapkan pengampunan atas nama kemanusiaan dan rasa kasih. Selamat datang di bumi yang penuh dengan ketimpangan yang menyimpang, yang mengekang dan mempermainkan simpati republik.
Para pencabul nyawa bertebaran di hilir bulan yang akan dipenuhi dengan kasih sayang sang pujaan, atau mungkin sang pujaan telah lama dibuangnya hingga tak ada lagi yang bisa membendung buncahan hitam yang keji lagi jijik. Para pencabul nyawa berkeliaran dan akan terus tumbuh dalam rahim lelaki yang dipenuhi lendir-lendir keegoisan yang bangsat, hati para pencabul nyawa yang dipenuhi rasa gila hormat dan di subur bermekaran di dalam dada para bangsawan duniawi.

No comments:

Powered by Blogger.