Header Ads

Antrean Baca
recent

Puncak Gilaku


Pagi-pagi sekali usil mengganggu lubang akhirku yang masih samar-samar ku rasa. Balutan mimpi masih begitu hangat mengusir rasa dingin yang menyetubuhi diri sepanjang malam. Usil semakin mengutil kehangatan diri hingga pecah mimpiku, mendengar ajakan pagi hari yang sangat ku benci, dari orang yang sangat ku benci.
Caci menjadi musik pagi itu bersama hati yang semakin terpanggang di hari yang masih sangat bayi. Ajakan kebencian, ajakan yang paling ku benci. Paksa aku hingga manttra-mantra kebencianku membuncah pada ujung dirimu yang seharusnya ku gantung saat itu juga. Anjingku berkeliaran di seputaran batin dan bibir, enyahlah kau dalam lubang paling benci dan kelam, pagi yang sial!
Ratusan menit yang telah berlalu tak jua jadi puisi, di ujung gilaku ternyata sangat susah untuk menjadikan sebagai bahan pembuat puisi. Apa ini terlalu berlebihan hingga otakku tak bisa dengan tangkas mengolah sari-sari kebencian menjadi puisi. Namun saat ini, setelah sehari berlalu terlahirlah tulisan ini dari rahim ketengganku yang usil mengulik sisa-sisa pagi kemarin. Pagi yang paling ku benci, pagi yang telah mencabuli kemewahan hidupku.

Memang tak ada makna dari tulisanku kali ini. Apa yang kulis ini benar-benar hanya untuk memenuhi nafsuku bahwa semua rasa negatif yang ada bisa dan pantas untuk dirajut menjadi sebuah tulisan yang menjijikan namun memikat pekat.

No comments:

Powered by Blogger.