Header Ads

Antrean Baca
recent

Nostalgia Paling Akut


Rajut bintang malam melintang pingsan
Kunang-kunang kuning tak bergeming menandai suramnya hati yang geram
Dengan sinarnya yang kemuning acuh meninggalkan sinar harapan yang terbesit di hati
Gelap datang lagi melumuri imaji dengan endapan lumpur waktu
Jerit-jerit kecil yang terlupakan menggema lagi ke seantero ruang imaji
Polos yang tergerus, cungkil-cungkil rasa sakit yang merjami jemari
Bergetar mata tertuju pada satu rasa sakit yang tak pernah terbayang
Tertusuk! Darah segar mengalir bersama lendir putih yang membawa rasa senang
Terhunus! Cekikan tangan-tangan kekar melingkar hingga ujung jeritan
Tertimpa! Retak selangkangan menahan beban diri yang terkurung dalam rajam tawa iblis
Tergelatak nyawa yang terpotong, sisa nadi yang berdegup melolongkan kekuatan kebencian
Kurungan waktu meletupkan sinting jiwa, pisau-pisau adalah riasan leher terkeren
Iblis sialan! Tawamu menjijikan bergema di telingaku sepanjang angin malam berhembus
Tawamu yang menjijikan adalah bibit-bibit kebencian
Mata yang menyorot tajam menandai rupa-rupa yang jelek berbalut lendir bengis
Suatu malam, kemaluanmu akan terpotong hingga tak ada lagi rasa malu
Dengan tangan, dengan tangan sendiri!

No comments:

Powered by Blogger.