Menghitamkan Kenangan Hitam
Terasa
begitu pekat saat jiwa-jiwa yang terdampar di alam pikiran melolong anjing
Gusarannya
menggigilkan raga yang tertekuk oleh tengkuk kepedihan
Lendir-lendir
yang tertetes di ujung hening menghibahkan rasa candu akan desah
Lama
terpasung dalam relung ratapan yang terpatri oleh ruang-ruang yang jeram
Hitamkan
semuanya kedalam telapak tangan lalu tutupkan ke muka
Yang
ada hanya gelap yang hitam
Isak-isak
yang teredam telapak tangan dengungkan kepedihan dari rasa sesal
Sesal
akan diri yang telah terjerat kedalam palung paling akut dan jijik
Disini,
ribuan gemerlap bintang menyaksikan proses kehinaan diri yang tertusuk
Berceceran
amis kepedihan di udara yang dingin
Mengigil
gilakan jiwa, jiwa yang labil terambil dalam rengkuh tawa sang pujaan bangsat
Tak
ada daya melawan angan yang telah melayang
Yang
menggantung di ujung bola mata hingga melototkan otot-otot
Saat
pecah diri dalam rengkuh yang angkuh, jiwa ternoda dalam kelam atas nama nafsu
cinta
Menghitamkan
kenangan hitam yang membekas dalam belahan jiwa
Sisa
isak menyuarkan kebencian akan rasa cinta yang menjijikan saat terlumat olehnya
Sisakan
trauma bengis yang amis disekujur bangkai otak
Yang
teraromai wangi lendir kehidupan
Bangsat
yang menjunjung makna cinta murni di sekujur tubuh
Akan
ku pasung cinta murnimu menjadi cacahan darah yang terias di ujung-ujung waktu.
No comments: