OPERA TUHAN
Pernah
sesekali pikiran nakal ini tersentil oleh dialog konyol pesineas yang acap kali
melontarkan omongan basi bernada hinaan laten kepada junjungannya. Mungkin itu
sekedar dialog lakon yang diucapkan karena perintah sang sutradara, tapi apa
sebodoh itu para lakon atau memang sang lakon tak memiliki kekuatan untuk
sekedar menolak. Dialog tersebut berirama lemas nan lemah bahwa semua ini sudah
digariskan oleh sang junjungan, jadi apa yang bisa dilakukan untuk menolaknya.
Tentunya
dialog tersebut jika dikembalikan kepada hakekatnya akan membawa dampak kepada
ketidakberdayaannya seorang manusia dalam rentan waktu yang katanya hanya
sebentar ini. Semuanya sudah digariskan oleh sang junjungan, lalu apakah jika pantas
memasang topeng-topeng positif diwajah, semisal empati dan kebencian.
Semuanya
sudah digariskan oleh sang junjungan, dialog yang penuh pesimistis itu layak
diperhatikan dalam penggunaannya dalam dunia sineas yang semakin membosankan
penuh pembodohan. Dialog tersebut adalah kata-kata terakhir bagi perjuangan
para lakon yang harus menari-nari diatas keputusasaannya, dan menjadi racun
bagi para penontonya yang terbelalak oleh rayuan akting para lakon yang basi.
Dalam
dunia nyata, dialog tersebut akan menjadi lelucon yang menggelitik pusar para
pendengarnya. Apa yang lucu? Tidak ada, mungkin hanya nilai-nilainya yang mulai
tak penting itu terdengar asing dan lawak, sebagaimana yang telah tersinggung
oleh sang junjungan dalam buku kekalnya. Yang harus diperhatikan hanyalah masih
adakah orang-orang yang benar-benar menganggap hal itu sungguhan? Tentunya ada,
ialah orang-orang kolot yang sok memegang teguh ajaran nenek dan kakek
moyangnya.
Inilah
panggung yang maha besar dengan para lakon yang harusnya tak usah bertindak diluar
garis merah yang telah digariskan, hanya perlu mengikuti alur dari garisnya,
entah itu garisnya lurus atau kusut. Jika garismu lurus maka jalanmu menuju
hidup dan mati akan menjadi indah dan berakhir indah, namun jika jalurmu kusut
nan kisut, hingga hidup dan matimu menjadi carut dan jauh darinya, maka memang
itu adalah garismu yang tak bisa kau luruskan hingga ajal mencekik nyawamu, dan
jika kau terpanggang dan menjerit, proteslah pada junjungmu yang menertawakan jeritmu
sejak awal. Memang untuk bisa mengetahui ujung dari garis yang telah digariskan
hanyalah kematian...
No comments: