Aurora
Kilat-kilat
peristiwa lalu menghiasi kiasan waktu
Menebar-nebar
jala penjerat erang yang sakit
Yang
meronta, yang menggeliat dalam gelap masa dimana kaki terpijak
Semilir
angin dingin yang menusuk-nusuk merusak benak
Jiwa-jiwa
lalu berhamburan menggerayangi pikiran yang membasi
Aura
dari kegelisan hari menyeruak puah
Getarnya
meraba pangkal paha hingga kejang yang telanjang
Terpejam,
aurora mistis yang dinanti tak kunjung mengurung
Dan
mengenggam, mengangkat hati yang telah lama tercemar gusar
Rengkuh
dan balutlah dalam pendar kilatan yang memukau mata itu
Hingga
luluh dan luntur hati ini menjadi debu yang berkeliaran di jalanan
Hingga
lelap, hingga lelap mata dalam keabadian
Di
semesta yang dipenuhi aurora yang sebenarnya

No comments: