Countdown to Heaven
Segelintir
manusia yang disekitaran jejakku menyepi dalam karung
Saling
himpit namun tak ada rasa saling peduli
Siang
begitu terik meneriakkan panasnya di ruang kamar yang gerah
Satu
langkah menghampiri jejakku dan melontarkan puja-puja yang memuakkan
Dua
langkah menghampiri jejakku dan melontakkan puja-puji yang sama
Tiga
langkah menghampiri jejakku dan mengajak untuk ke surga
Namun
surga yang ditawarkannya terbayang gerah oleh siang yang terik.
Tak
ada bisikan apapun di siang yang gerah itu. Hingga enyahlah para
langkah-langkah
Dalam
ruang kecil berias gerah yang hening
Tapak-tapak
berbisik mengusik keranuman jiwaku yang rehat di atas kesunyianku
Tapak-tapak
meng-skak tapakku hingga terpaku dalam rasa hina yang traumatis
Teriris
bayang-bayang waktu yang akan ku lihat
Terbayang
hinaan apa yang akan mereka lumurkan ke dalam tubuhku
Sepuluh,
cincangan memar menghiasi wajah ayu yang selama ini terjaga
Sembilan,
nyeri menggerayangi tubuh kecilku yang terpatri oleh tumpulnya otak mereka
Delapan,
sesak menyekap tabir suciku hingga anyir pertamaku pecah berurai kesakitan
Tujuh,
tawa-tawa menjijikkan yang gila menggema merobohkan dinding hati
Enam,
kata-kata menjijikan mereka menambah rasa traumatis di otakku
Lima,
langkah kesepuluh selalu berulang di tiap menitnya
Empat,
langkah kesembilan semakin bertambah pilu dan nyeri
Tiga,
tawa-tawa yang menjijikan itu semakin membuatku gila
Dua,
aku tak kuat lagi menopang tubuh renta ini yang semakin remuk terlindas
Satu,
hal terakhir yang kulihat adalah sebatang cangkul usang nan karat
Yang
mencincang isi perutku hingga anyir-anyir mengudara
Bersama
kematian yang menggendongku menuju surga
.......

No comments: