Sapuan Jeram Di Alas Kaki
Mendekil
puan dalam belaian gelap-gelap sudut malam
Hingar-binar
musik jalanan mendendangkan lagu parau yang tak jelas
Belas-belas
berbelas dalam cawan-cawan keras pelolong gairah malam
Tikam!
Pasung dalam aroma penyekik norma yang tak normal
Meraungkan
gelap malam yang pekat, sepekat cairan cinta yang tertahan
Satu,
dua, tiga. Dualisme melekat pekat, tak bersekat namun berserikat
Dalam
masa tenang, setelah letih membumbung ke aurora cinta
Rebahan
sisa surgawi terbayar oleh deru-deru duniawi yang berlembar-lembar
Sapuan
jeram di alas kaki, meski terkadang sakit namun tak bisa lepas
Jeram-jeram
yang ada hanyala sakit yang sesaat
Sapuannya
yang menjalar sepanjang jalan kaki yang telanjang hanyalah kerikil yang dekil
Yang
akan menuntun ke jalan yang lebih empati, tanpa antipati
Jeram
di malam hari, jeram yang menyandung tiap kaki-kaki yang telanjang
Jeram
yang bertebaran di malam hari adalah tanda kehidupan

No comments: