RUANG SEMU
Memaku mata pada
satu layar semu yang merintih
Menindih titik
didih pada batin yang terangsang gerah
Dan
telinga-telinga akan terpasung pada rintihan geli deru layar semu
Batin terjaga,
menjaga mata-mata yang lancang menerjang layar semu
Dalam ruang semu
yang kosong akan diri-diri
Sendiri
menikmati tikaman batin yang meluluh lantaikan moral
Segenggam moral
dalam cumbuan maut yang kalut
Sisi lain dari
manusia terlihat nyata, dan menggelakkan sisi yang lainnya
Dan aku berdiri
di sisi lainnya, menahan segala degup yg terletan bersama ludah
Menyaksikan
drama semu yang menyingkap tabir keegoisan tabir surga yang fulgar
Kekar mengakar
hingga degup sanggup untuk mendetakkan waktu di sekelilingku
Dan aku masih
berdiri, dan mungkin akan terus berdiri hingga ujung drama berakhir
Dan tetap
berdiri pada drama semu lainnya hingga lupa batasan antara drama dan kenyataan
No comments: