JELAGA
Ada hal yang
menghitam sejak hatiku menjadi hancur karena diludahi
Hingga sekarang,
sisa-sisa kenangan buruk itu memaksa cerminan lain untuk timbul
Dari bayangan
lain diri, terlahirlah satu diri baru yang suci saat melapas semunya
Kini hidup, kini
memulai perangai baru dalam membudak
Diri manusia
yang paling sempurna, dengan tanah suci yang terinjaknya
Mengharuskan
pepohonan tumbuh subur oleh kerunianya yang adil
Adil berbedil,
menggerogoti dan mendustai para pembenar
Sebenarnya, apa
itu yang dimaksud dengan kedamaian untuk bumi?
Jika tanah suci
yang terpijak menjadi jejak-jejak degradasi moral
Yang menjelaga,
yang menghitamkan, yang mengelamkan nama sendiri
Menjadi pendusta
ulung yang menggembar-gemborkan kedamaian ego
Kedamaian bagi
ego-ego yang rindu akan cabulan dan hukuman kenikmatan
Tanah sucimu
menjadi ladang perang-perangai yang selalu memanen liur darah yang rekah
Tanpa peduli
para bibit yang sedang tumbuh, dengan kaki kotormu kau injak hingga retak
Pendusta yang
kecanduan rindu ego, pendusta yang keracunan asmara imaji
Perang-perangai
yang membawa kerusakan dan pendustaan atas nama sang pujaan

No comments: