TANPA 17 AGUSTUS
Mungkin akan menjadi hari-hari yang tak akan pernah terbayangkan
sebelumnya. Dari sekian banyak tanggal yang sama dan berulang di setiap
bulannya, rasanya tanggal 17 hanyalah tanggal kosong yang penuh dengan
petuah-tuah bagi para penikmat sejarah. Sebuah tanggal di bulan yang berkata
penuh semangat yang di rantai oleh belenggu ego, namun bisa dilumatkan atas
dasar kesamaan impian di hari esok yang masih membentang terang. Bagaimana jika
bukan 17 Agustus? Apakah masih bisa terasa mengelorakan semangat manusia yang
konon kini mulai tergerus globalisasi. Apakah masih bisa sang merah putih
berkibar selama bulan Agustus, dan membuat para siswa-siswi SD mengibarkan
bendera mungilnya dengan wajah yang kebingungan, dan membuat para peserta
upacara bendera betah hingga melupakan yang namanya pingsang karena belum
sarapan.
Jika bukan tanggal 17 Agustus, akankah semua lagu perjuangan akan
kehilangan nada dan semangatnya? Karena harus memulai lagi untuk menyusun
not-not baru untuk menyesuaikan sejarah. Jika bukan 17 Agustus, misalkan
diundur pada akhir bulan September, akankah para Jendral besar kita masih hidup
dan sejarah yang katanya kelam itu tak akan pernah terjadi, hingga rasanya
lebih baik jika bukan tanggal 17 Agustus. Dan misalnya diajukan pada bulan April,
akankah Kartini menutup bukunya karena kalah eksis dengan semangat seluruh
manusia ketimbang semangat emansipasinya. Jika bukan tanggal 17 Agustus,
akankah para penyampah sumpah serapah tak lagi menajadi tumpukan sampah sejarah
yang mendustakan perjuangan para pejuang dulu. Dan jika bukan tanggal 17
Agustus, akankah kekayaan yang nyata itu benar-benar bisa membuncitkan setiap
manusia yang menginjakkan kaki di bumi yang katanya milik ibu Pertiwi ini,
seorang ibu yang dengan kebaikan hatinya rela dan sudi diperkosa oleh
anak-anaknya yang entah lahir dari benih siapa.
Tanpa 17 Agustus, akankah kehidupan manusia lebih baik jika hidup di
bawah panji-panji sang Ratu, Ratu yang jauh dari kata ego meski Ratu adalah
ratunya ego, Ratu yang akan selalu melindungi rakyatnya yang berharga hingga
akhir hayatnya, dan menjadi persemakmuran yang akan makmur selayaknya tanah
tetangga.
17 Agustus, sebuah tanggal yang menggembirakan bagi orang-orang tua yang
masih hidup, dan tanggal ajang mengadu keberuntungan bagi orang-orang muda yang
konon akan mengosongkan tanggal 17 Agustus sebagai hari libur biasa karena
ketidakstabilan para pemegang pondasi, hingga menggelayutkan para bibit yang
sedang tumbuh dengan arus globalisasi yang praktis asik membawa mereka pada pilihan
hidup yang lebih egosentris dan matrealistis.
No comments: