BERKELAKAR TAWA
Ada pula yang tengah menikmati
kelakar di punggung-punggung orang
Melenggangkan senyum acuh tak
terjamah
Meski terperah juga tak jadi apa
Dan ada pula yang tertawa saat
melihat kembali di cermin
Yang memantulkan dua bayangan
yang asing lagi pusing
Mungkin karena dulunya bukan
dengan tawa, melainkan dengan segenap jiwa
Hingga tak ada tawa yang
mengamini meski berlian dijunjung-jungjung dengan telanjang
Memang mungkin karena bukan
dengan tawa tanah ini bisa menjadi sangat subur
Namun dengan kucuran darah yang mengering
hingga memupuk pelupuk
Hingga tawa-tawa yang telah
disemai secara rutin menjadi batin
Yang mampu menertawakan semua hal
yang bahkan sudah sangat lucu
Berkelakar tawa membelukar di
sudut-sudut kalut
Tumbuh subur hingga mengubur
sekujur batas negri
Tak ada yang tak bisa
ditertawakan
Semua hal mengandung unsur
gelaknya masing-masing
No comments: