Praawal
Pernah
satu waktu leher terjerat oleh jerat yang tak bisa dilepas semudah menanggalkan
celana saat hendak tenggelam. Jeratnya memaksa diri harus mendayung sampan yang
kecil nan upil di tengah-tengah kebencian hati yang tak lagi mau menerima
kekonyolan puja-puji yang bisa membuat bibir tersungging nyengir. Sapata-sapata
terapal sepanjang jalur yang terkayuh dengah sesungguh-sungguhnya kebencian
yang konyol.
Hampir
setiap hari harus mendayung di lembah yang sama, saat yang sama, dan kebencian
yang sama hingga menumpuk dan menyampah di ruang-ruang hati yang katanya maha
luas. Kebencian yang mengendap menapak ego, dan diri mencerminkan laku berontak
yang tak berotak, caci-caci menjadi amis namun memikat hati yang terlanjur
menghitam karena kepulan kebencian yang sengaja ditanam. Katanya demi hari
akhir yang entah kapan adanya dan sebungkus lelucon yang diajarkannya, semuanya
hanya embel-embel bagi hati yang menggembel karena keterikatan yang payah.
Dan
orang yang hanya bisa menyoraki saat mendayung tak lebih dari sampah yang
hanyut terbawa ego mereka masing-masing, termasuk aku, akan ku bawa mereka
hanyut kedalam kegelapan yang memikat untuk zamanmu kelak. Lupakan saja
embel-embel yang telah disemaikan oleh orang-orang yang dengan egonya
bersenang-senang diatas horni, lantas seenak pusarnya memaksa diri untuk
berpusar hingga pusing dan pening, hingga tak bisa memilih jalan sendiri dan
harus dipapah ke jalan yang telah ditentukan karena rasa pengecut yang
sejatinya adalah sifat alami manusia.
Praawal,
adalah bintik dari lahirnya tumpukan-tumpukan sampah dihati yang terkadang
membuat diri tak manusiawi, dan mengembalikan manusia kepada titik awal dari
sejatinya kehidupan yang penuh dusta-dusta yang mengatmosfir. Atas nama tradisi
ketakutan dan enggan menggunakan otak-otak yang ada menjadikan tembok
tersendiri bagi langkah menuju kebebasan yang hakiki. Memang benar jika kebebasan itu tak selamanya
bebas, keran kebebasan itu sendiri adalah kekang yang akan mencabuli diri
hingga tererang-erang pecah di ujung khayal.
Padahal,
kalau ditilik dari lubang tengkorak, semua puja-puji yang mengepul hingga
tinggi itu memiliki garis merah yang sama, paling tidak hampir serupa, hanya
beda aktor. Namun pesan dan visi yang digotongnya tetap sama, meski tata cara
yang dipraktekkan berbeda. Dan memiliki satu kekonyolan yang menyunggingkan
kekekalan yang kosong bag omong kosong yang dilontarkan pahon lontar.
Konsep-konsep kosong yang banyak diikuti hanya sekedar mengekor pada gen yang
telah diwariskan dalam semalam hingga basah dan ah.
No comments: