Header Ads

Antrean Baca
recent

Praawal


Pernah satu waktu leher terjerat oleh jerat yang tak bisa dilepas semudah menanggalkan celana saat hendak tenggelam. Jeratnya memaksa diri harus mendayung sampan yang kecil nan upil di tengah-tengah kebencian hati yang tak lagi mau menerima kekonyolan puja-puji yang bisa membuat bibir tersungging nyengir. Sapata-sapata terapal sepanjang jalur yang terkayuh dengah sesungguh-sungguhnya kebencian yang konyol.
Hampir setiap hari harus mendayung di lembah yang sama, saat yang sama, dan kebencian yang sama hingga menumpuk dan menyampah di ruang-ruang hati yang katanya maha luas. Kebencian yang mengendap menapak ego, dan diri mencerminkan laku berontak yang tak berotak, caci-caci menjadi amis namun memikat hati yang terlanjur menghitam karena kepulan kebencian yang sengaja ditanam. Katanya demi hari akhir yang entah kapan adanya dan sebungkus lelucon yang diajarkannya, semuanya hanya embel-embel bagi hati yang menggembel karena keterikatan yang payah.
Dan orang yang hanya bisa menyoraki saat mendayung tak lebih dari sampah yang hanyut terbawa ego mereka masing-masing, termasuk aku, akan ku bawa mereka hanyut kedalam kegelapan yang memikat untuk zamanmu kelak. Lupakan saja embel-embel yang telah disemaikan oleh orang-orang yang dengan egonya bersenang-senang diatas horni, lantas seenak pusarnya memaksa diri untuk berpusar hingga pusing dan pening, hingga tak bisa memilih jalan sendiri dan harus dipapah ke jalan yang telah ditentukan karena rasa pengecut yang sejatinya adalah sifat alami manusia.
Praawal, adalah bintik dari lahirnya tumpukan-tumpukan sampah dihati yang terkadang membuat diri tak manusiawi, dan mengembalikan manusia kepada titik awal dari sejatinya kehidupan yang penuh dusta-dusta yang mengatmosfir. Atas nama tradisi ketakutan dan enggan menggunakan otak-otak yang ada menjadikan tembok tersendiri bagi langkah menuju kebebasan yang hakiki.  Memang benar jika kebebasan itu tak selamanya bebas, keran kebebasan itu sendiri adalah kekang yang akan mencabuli diri hingga tererang-erang pecah di ujung khayal.

Padahal, kalau ditilik dari lubang tengkorak, semua puja-puji yang mengepul hingga tinggi itu memiliki garis merah yang sama, paling tidak hampir serupa, hanya beda aktor. Namun pesan dan visi yang digotongnya tetap sama, meski tata cara yang dipraktekkan berbeda. Dan memiliki satu kekonyolan yang menyunggingkan kekekalan yang kosong bag omong kosong yang dilontarkan pahon lontar. Konsep-konsep kosong yang banyak diikuti hanya sekedar mengekor pada gen yang telah diwariskan dalam semalam hingga basah dan ah.

No comments:

Powered by Blogger.