Header Ads

Antrean Baca
recent

SELEPAS DIPECUNDANGI


Riwayatmu kini hanya menjadi ukiran-ukiran waktu yang tak ubahnya prasasti
Prasasti. Benar-benar sebuah prasasti waktu yang hanya akan dibaca saat tengah bulan
Nilai-nilaimu tergradasi, inti hidup yang kau cengkram tak lagi mampu merobek hati
Hanya kilasan-kilasan, yang berkobar lalu padam terguyur sejuk nilai-nilai materiil
Apa memang semua hal yang berbau usang akan ditinggalkan?
Dan diletakkan begitu saja sebagai simbol dan hiasan semata
Riwayatmu kini hanya menjadi simbolis yang miris teriris tipis-tipis
Lagumu hanya menjadi nada-nada kosong yang ompong
Nada-nada yang hanya dilantunkan bocah ingusan di bangku-bangku berkutil
Tak ada lagi makna, karena lagumu hanyalah sebatas lagu yang dihilangkan nilainya
Dan jika lagumu dilantunkan secara dewasa, hanyalah sebatas hiburan
Yang akan semakin menghibur jika satu atau dua larikmu terpenggal
Riwayatmu kini hanyalah bahan candaan yang dikonyolkan dan dipertontonkan
Rantaimu lusuh dan berkarat, hingga karat-karat otak bisa leluasa menggerogotimu
Dan menjadikan nilaimu sebagai seni baru yang menghibur dan dipertontonkan
Nilaimu diremuk-remuk dengan polos dan cantik, dan menggelorakan semangat yang usang
Hingga bumimu bergejolak di atas hiburan, hukum-hukum saling merangkul dan mendengkul
Tragis memang tragis, tapi magis yang menyelimuti bumimu selalu saja bisa mengalirkan satu kata sakti yang akan menggenjot setiap hati. Maaf!
Riwayatmu kini tak lebih dari gambaran yang menempel di dinding-dinding yang dingin
Riwayatmu kini hanyalah cerita sejarah yang akan berubah menjadi dongeng yang cengeng
Riwayatmu kini tak bisa bertahan selama di hati yang telah kau merdekakan
Dan riwayatmu kini...

Tak bisakan kau terbang tinggi dan melolongkan kebenaran dan keadilan yang sejati?

No comments:

Powered by Blogger.