TANGIS MALAM
Ada bayi-bayi yang mengais air susu
yang basi di pelataran malam
Tangisnya parau bersama bulu kuduk
yang berdiri terhardik rasa pilu
Ngilu di ujung perasaan yang terasa
suram di malam yang menangis
Tangis malam, dari gema-gema rahim
yang dipaksa untuk menangis
Dan bayi-bayi yang terselimut bara
meronta, mendekap hangat sang pelukan
Berharap tak pernah saja dipeluk oleh
dekapan sang empunya
Jika
hanya untuk dibaluri bara yang kemudian diredupkan
Lantas dibungkam bersama malam yang
terus mendesiskan angin malam
Meninggalkannya untuk bernyanyi
sendiri ditengah gigitan gigil
Jika saja boleh memilih, mungkin akan
lebih jika terus berada dalam dekapan hangat
Meski tak untuk diakui, namun jauh
lebih baik jika dipeluk oleh tangan lain
Meski tangis malam ini adalah simbol
keegoisan dari rasa ketakutan kalian
Namun jangan lupakan bara yang sudah pernah
tertelan dan menangis
Yang akan selalu menggema di ujung
benak yang termakan ego sesaat
No comments: