Header Ads

Antrean Baca
recent

TAKUT KEHILANGAN KEBENCIAN


Mungkin saja judul dari tulisan ini berkesan aneh dan gilak. Emang benar, memang saat aku menulis yang satu ini aku tengah gila. Kebencian, ya kebencianku adalah sumber dari semua puisiku, tanpa kebencian puisiku tak akan pernah lahir.
Pernah suatu waktu hatiku tengah santai, tiada badai tiada topan, hatiku damai. Namun saat itu juga hatiku menjadi bisu, otakku mandek tak bisa menggerayangi ribuan diksi yang tersimpan di memori otakku, aku mengalami Poemblock. Tak ada satu pun puisi yang terlahir saat aku, hatiku tengah bersantai. Itu memang bagus karena tubuhku dan jiwaku mungkin akan lebih sehat, namun puisi-puisiku akan mati.
Apa sepenting itu berpuisi hingga harus memupuk kebencian terus? Tidak, puisi itu tidak penting, bagiku itu hanya cara mencetak jejak-jejak yang pernah di lalui oleh hati. Terus kenapa hanya kebencian yang dicetak, bukankah hati adalah perasa yang jauh lebih bagus ketimbang lidah, ada banyak rasa yang bisa dicap oleh hatikan? Entahlah, hanya saja kebencian itu memberikan kekuatan tersendiri dalam menyusuk diksi-diksi basiku, namun sesekali juga aku membuat puisi yang bernada kesenangan dan cinta, namun juga aku bengkokkan ke hal yang lebih bersifat erotis, aku hanya ingin berpuisi lain dari pada pujangga yang lainnya. Apakau seorang pujangga? Tentu saja bukan, kata itu (pujangga) hanya milik orang-orang jaman dulu, aku hanya sekedar penggiring diksi-diksi yang berjejelan di otak hatiku.
Takut kehilangan kebencian, judul yang cukup menarik dan sedikit mengundang geli. Itu artinya selama hidup kebencian akan selalu tumbuh di dalam diri. Mungkin saja, ku anggap itu sebagai inpirasi untuk berpuisi, karena kebencian yang ku puisikan tidak semata-mata dari hati semata, namun juga dari mataku (kebencian orang lain atau situasi yang bisa menimbulkan kebencian massal) bisa ku ubah menjadi puisi.
Intinya aku hanya ingin berpuisi lain dari pada pemuisi lain yang mengedepankan keindahan tatanan taman katanya. Aku lebih suka dan bergairah untuk menggunakan kata-kata yang dianggap kotor atau jarang disentuh oleh pemuisi yang lainnya, dan mensejajarkannya atau bahkan mengubah maknanya menjadi hal lain yang jauh melebihi makna hakikinya, itulah mungkin asiknya berbenci puisi, nikmat menelanjangi kata-kata dan mempermainkan persepsi para pencabul puisiku.

No comments:

Powered by Blogger.