ANGIN, SANG PEMBAWA LAMUNAN
Sadar, benar-benar sadar bahwa
ternyata teras ini kini hanya berisi aku
Aku yang tak lebih dari secangkir teh
tanpa gula darimu
Yang terbiasa menawarkan tawa canda
sesaat sebelum senja di ujung horison dimulai
Dan angin senja kini menyadarkan ku,
bahwa desis angin yang menubruk dedaunan
Adalah tanda bahwa aku kini hanyalah
sang pemuja angin
Yang membawa diriku terbang bersama
anganku yang benar-benar kekar
Yang bisa menghidupakan dirimu meski
aku tau kau sudah tiada
Namun angin selalu mempunyai caranya
tersendiri untuk menerbangkan anganku
Menuju duniamu yang ku isi dengan
lamunan yang tak kalah nyata dengan mimpi malam
Angin, sang pembawa lamunan, atau
mungkin, hanyalah caraku belum rela melepas rangkul
Yang masih ingin terus mendekap erat
bayangan dirimu yang masih terus terasa
Dan akan terus terasa hingga aku ikut
terbang bersama angin, ke tempatmu
Hingga tak ada lagi angin sang
pembawa lamunanku
No comments: