Tebak aku
Tebak aku
Yang berkelakar dengan tawa sinis
yang amis
Mengiris-iris tiap kenangan yang
telah terinjak
Lantas tertawa geli dengan semua
bayangan yang sekelebat
Membabat semua rasa syukur yang
pernah ada
Dan tergantikan oleh kebencian yang
beralamat kreasi
Kreasi basi yang mengisi ruang-ruang
mayat yang maya
Penuh dengan ke dustaan yang elegan
Hingga menjadi candu yang memandung
para jempol
Yang terus mengompori pelatuk diksi
yang terus dibisiki
Dibisiki oleh erangan ego yang
mengigaukan empati
Hingga mati, tebaklah aku
Sang pelarut kebencian yang dengan
pongahnya
Membredeli rajutan diksi basi di otak
Hingga berceceran tak karuan dan
berserakan di ujung mata

Puisinya menarik, saya sangat terpikat..
ReplyDelete:)
Makasih ya, tugas jadi terselesaikan
ho.......
Delete