Header Ads

Antrean Baca
recent

Tebak aku


Tebak aku
Yang berkelakar dengan tawa sinis yang amis
Mengiris-iris tiap kenangan yang telah terinjak
Lantas tertawa geli dengan semua bayangan yang sekelebat
Membabat semua rasa syukur yang pernah ada
Dan tergantikan oleh kebencian yang beralamat kreasi
Kreasi basi yang mengisi ruang-ruang mayat yang maya
Penuh dengan ke dustaan yang elegan
Hingga menjadi candu yang memandung para jempol
Yang terus mengompori pelatuk diksi yang terus dibisiki
Dibisiki oleh erangan ego yang mengigaukan empati
Hingga mati, tebaklah aku
Sang pelarut kebencian yang dengan pongahnya
Membredeli rajutan diksi basi di otak
Hingga berceceran tak karuan dan berserakan di ujung mata

2 comments:

  1. Puisinya menarik, saya sangat terpikat..
    :)
    Makasih ya, tugas jadi terselesaikan

    ReplyDelete

Powered by Blogger.