Sekantong sampah
Sekantong sampah
Tak tau apa kata pertama yg harus
dituliskan
Hanya saja nada-nada parau yg
menelusup lewat telingaku yg tersumpal
Memang terasa menggetarkan hati yang
sudah bagus tanpa kebencian
Nada-nada parau di tengah-tengah
nadaku
Aku benci keadaan yg perlahan
membangkitkan kebencian hati
Tak pernah ku mengerti arti diri dan
apa yg di mau hati
Sialan! Lagi-lagi aku menjadi
setengah gila yg kehilangan akal
Dan menggerutu atas nama
doktri-doktrin kampret yang karet
Tak bisa di lanjutkan lagi, tak bisa terus
di jalani
Semua nada-nada parau yg tersumpal di
telinga
Menjadi sekantong sampah yang
membusuk
Menusuk rusuk-rusuk hingga kikuk dan
ambruk
Ambruk dalam bayang angan yang tak
pernah jengah
Ah, aku rasa benar-benar gila apa
yang ada di kepalaku
Nada-nada parau bisu yg mengeringkan
hati
Dan lagi-lagi, tak ada gunanya hidup
tanpa mulut dan hati yg berfungsi
Seperti aku, patung yang diludahi
masa-masa
Yang memiliki mulut dan hati namun
tak pernah bisa berfungsi
Basi!

No comments: