Header Ads

Antrean Baca
recent

Menatap kertas putih


Menatap kertas putih
Yang ada hanya angan-angan tentang rangkaian diksi
Yang coba dan paksa untuk bisa terus merajutkan diksi
Benar-benar susah merajut diksi saat tidak ada kebencian ataupun empati
Dari sisi lain mungkin ini terlihat sangat bagus
Karena hati yang tanpa kebencian akan lebih ringan
Namun puisi-puisi tak akan pernah bisa terlahir
Menatap kertas putih, kosong tak ada yg igin ku tuliskan
Mengaduk-aduk hati dan otak yang retak
Dan yang ku temukan hanyalah ceceran kata yang penuh dusta
Yang merekah dalam paksaan bulan-bulan
Ah, ini apa yg kulis? Kematian inpirasi ini sangat menyebalkan
Aku butuh kebencian untuk merapalkan diksi puisiku
Aku butuh empati yg cukup untuk melahirkan diksi-diksi dustaku
Menatap kertas putih, lebih tepatnya layar putih yg kosong
Jemariku tanpa arah berloncatan di atas tombol-tombol diksi
Terus menggelitik diksi tanpa arah yg terarah
Ah, lebih baik ku akhiri saja rangkain yg mulai basi ini.

No comments:

Powered by Blogger.