PUISI KE 100
Mungkin ini
sedikit kepongahan diri yang memang harus dipamerkan
Entah sudah
berapa lama bermain puzzle huruf dan merangkainya
Hingga bisa
menjadi rangkain puisi yang amburadul macam ini
Tak usah
dipikirkan tak usah dihiaraukan
Tetap tulis saja
apa yang kau inginkan dan rasakan di hati
Mungkin ini
salah satu seni memalaskan mulut untuk berbicara
Kalau tidak suka
dengan sesuatu ya langsung ungkapkan saja
Namun rasanya
mulutku ini tak pandai berkata-kata layaknya jari-jariku
Yang begitu
pandai bermain puzzle huruf di atas keyboar hingga bisa menyusun puisi
Puisi amburadul
yang sesungguhnya menjijikan dan jauh dari kesan para penyair agung
Yang
mengagungkan diksi-diksi pembengkok naluri pembacanya
Namun
puisi-puisi ku ini hanyalah permainan dusta paling tengil
Yang menebarkan
jala kebencian kepada para pembacanya
Dan sok
berempati dan mendustai diri sendiri, mungkin itu artinya menjadi pemuisi
kolong
Puisi kolong
hati yang hanya meracuni para pembacanya dengan para dusta
Hingga sampai
saat ini, puisi ke 100 pun masih akan terus melegalkan dusta untuk pembaca
Hingga akhir yg
tanpa batas, terus bermain dusta di atas kata-kata yg sok berempati
No comments: