SEPEREMPAT EMPAT ADALAH SATU
Tergigit
gigil dalam linu yang mencengkram pilu
Sesaji-sesaji
berdenyut menggelayuti paras-paras yang menguras sepah diri
Kejang,
jalang-jalang mengumandangkan sajak-sajak pengundang anyir diri
Dan
jika larut adalah rasa yang paling nikmat maka pudar dan melebur adalah sajak nikmat
Tak
ada arti kata-kata hati ku ubah jadi butiran kata-kata yang tertulis amis
Yang
ku tulis dan yang ku rasa sepah menambah gusar apa yang tak pasti
Sial!
Tak bisa lagi mengartikan apa kata hati yang semakin rancu berselimut racun
Tak
ada makna yang terkandung, hanya tulisan hati yang kalang-kabut dalam kabut
nyata
Tak
bisa lagi merangkaikan rasa yang lepuh dalam aduh
Apa
yang ku tulis? Tak ada artinya
Apa
yang artikan? Tak ada makna yang terlahir dari rahim-rahim pikiranku
Lupakan
saja, ini hanya rangkaian kata hati yang tercabuli waktu-waktu
No comments: