KENANGAN PUTIH
Manja,
sayang, rindu mengepul dalam kebobrokan diri yang tersungkur dalam
Sendu-sendu
klasik mengais rasa-rasa yang tertinggal di kenangan yang enggan busuk
Luka
dan cibiran membaur kedalam seduhan air mata yang lemah terkulai
Rindu
akan sentuhan membuncah di ujung hidung
Hingga
perih air mata terbendung membawa kebahagiaan tersendiri bagi diri
Dari
sudut mayaku, setiap kali terjerembab dalam lembab kesedihan
Bayang-bayang
tangan yang merjut kalut putih di tubuh menggema membelai tubuh ringkih
Terkikik,
pekikku tak terkendali tiap kali dibelai oleh angin sore
Sang
pembawa sore yang ku rindu
Sang
pembawa sore yang selalu ku tunggu di atas tunggku es
Dengan
tawa dan polahku yang polos mengikis rasa sakit yang menyetubuhi
Akan
bertambah saat matahari mulai tenggelam dan kau bawa oleh-oleh yang kau peroleh
Apapun
itu, jika tanganmu yang membawanya akan menjelma menjadi racun bagi deritaku
Kenangan
yang akan selalu melekat di jantung dan hati busukku
Yang
akan terus memberi ku inspirasi untuk menulis bait-bait yang melilit
Hingga
jemariku tak bisa lagi memilah bilah-bilah huruf
Dan
otakku tak bisa lagi berpikir kotor
Dan
imajinasiku tak bisa terbang tinggi lagi
Maka
seterusnya kau akan ku hadirkan dalam rangkaian bait-bait yang akan
mengabadikan
Mengabadikan
jemarimu untuk dunia sekaligus membuktikan kerusakan diri saat ini
Dan
menunjukkan kepada keturunmu bahwa memang pantas kau untuk diabadikan
Kedalam
bait-bait yang menjelajah dunia maya

lumayan...
ReplyDelete