Header Ads

Antrean Baca
recent

POHON WAKTU


Ia tumbuh bersama lilitan waktu yang menggenggam pusarnya. Kebebasan adalah tabu bagi alur waktunya. Bersama kesedihan dan sengsara ia berteman akrab hingga tak ada kepedihan dan kesengsaraan yang lebih dan akan menlunakkan hatinya. Saat pusar terpenggal, saat itulah jati diri dan puja-puja akan dirinya dikekang dan dibutakan. Matanya dibutakan, telinganya ditulikan, dan hatinya dipasung dalam ruang kecil bernama adab.
Pohon waktu semakin besar dan tinggi, hembusan angin mulai menerjang dan menghempaskan dedaunan yang berhasil ia tumbuhkan dan ia nikmati selama ini. Semakin ia tinggi semakin besar hembusan angin yang merontokkan dedaunanya. Dedaunannya berhamburan meninggalkannya, dari atas yang jauh ia sadari satu hal. Lepasnya dedaunan yang selama ini melekat padanya adalah hal tabu yang selama ini ia penasarkan.
Andai saja ia semakin tinggi kelak, akankah dirinya sendiri yang akan terhempas seperti deduanannya? Jika memang bisa, maka ia akan siap terhempas demi bisa lepas dari cengkraman akar tunggang yang menjeratnya. Melihat lebih jauh dari dekat, melihat apa-apa yang selama ini menggantung di dahinya.
Namun akankan kelak jika ia terhempas akan mati di tengah jalan karena tak ada akar yang menopang kehidupannya? Tapi jika dunianya bisa berubah meski sasaat dan lantas mati, maka ia akan rela dari pada terjerat akar-akar yang membelenggu hingga dungu. Angin adalah jalan yang akan menghantarkan dunia yang baru itu, dunia yang belum dan mungkin hanya sebentar ia bisa nikmati.
Pohon waktu, perlahan merangkak lebih tinggi dan menanti sang angin yang akan membawanya ke dunia yang belum jelas. Pohon waktu merangkak lebih tinggi hingga gugur semua dedaunannya tercabik-cabik angin dingin. Pohon waktu kerontang tanpa dedauanan, namun getah-getahnya masih menggalir deras menumbuhkan tiap tunas-tunas harapannya di dahi. Tetap menati sang angin, menanti dan tetap berharap angin akan menghempasnya hingga roboh.

Angin beliung bergabung, beruntung pohon waktu masih terikat oleh akar-akar tunggang yang menjeratnya, hingga sang beliung melintangkan pusaranya, pohon waktu bergetar karena sensasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Retak demi retak akarnya mencabut keterkakangannya, retak-retak bahagian mungcul sesaat di ujung langit. Hembusan angin yang kuat menerbangkan tubuhnya hingga jauh dan tersunggkur ia kedalam lembah. Lembah dingin dengan segudang pernak-pernik yang tak pernah terlihat sebelumnya. Disana, ia menjulurkan akarnya sendiri dan memulai segala apa-apa yang tertempel di dahinya. Namun, semunya tak semudah seperti yang ia bayangkan sebelumnya, namun ini adalah hal yang ia inginkan dan akan tetap menjulurkan akarnya hingga tersekat bebatuan keras dan membuatnya tewas dengan senang.

No comments:

Powered by Blogger.