MENGIRIS SIRIH
Saat
ikrar suci kau lontarkan, hati dan jiwa menangis-nangis. Tangis bahagia terurai
dari sudut mata nan lebam. Saat yang dinanti, saat yang penuh dengan ujung
kebahagiaan abadi dalam mengarungi biduk tlah ternahkodai, tanpa tahu tlah ada yang
ternodai. Dalam hening ikrar suci mencari tuas.
Kuntum
bunga-bunga mawar yang semerbak masih berserakan di sepanjang jalanmu. Kau bawa
senyum-senyum nan merekah seolah seperti mendapatkan hujan di tengah gurun. Tangan
selalu terikat lembut menyambut hari-hari kedepan tanpa ada satu pun duri yang
terbayang di telapak kaki.
Langkah
sejuta langkah melampaui angan-angan. Kuntum-kuntum yang semerbak kehilangan
wanginya, wanginya tertelan oleh duri-duri yang mulai tumbuh di sekitaran kaki
yang telanjang. Meski kau coba mengumpulkan wewangian yang tersebar di udara
tak akan mungkin bisa sewangi semula. Akhirnya, kau pun menjadi duri yang tak
peduli lagi dengan wewangian masa silam. Tercerai.
Hatimu
yang beku karena tertusuk telah kembali pulih dan siap untuk melangkah lagi.
Entah apa yang kau cari dengan calon-calon bunga yang nantinya akan berbuih
duri-duri tajam. Jikakah madu yang kau cari, maka telanlah sebagian keindahan
yang sesaat. Jikakah hal lain yang kau cari, maka suatu saat kau harus
memuntahkan apa yang telah kau telan. Dalam hening ikrar suci mencari tuas
lagi.
Sekali
lagi, kuntum bunga-bunga bermekaran dari wajahmu, riasan senyum dan mata yang
berbinar menambah nilai diri dihadapan orang lain. Kali ini apa yang kau cari?
Apapun alasanmu, utuh tidaknya bidukmu tergantung dari seberapa bijak nahkodamu
atau kau yang menahkodainya. Yang paling pasti, membelah Sirih tak selalu
meniscayakan bidukmu akan berlabuh pada dermaga bernama Tentram.
Dalam
setiap keheningan ikrar yang terucap selalu saja dibarengi dengan calon-calon
duri yang nantinya akan menusuk hati-hati para pelakonnya, akankah kau siap
tertusuk lagi atas nama ketaatan dan demi menghindari cacian diri kerena tak
betah terjilati oleh lidah-lidah setan yang senantiasa menjilati intimu. Mungkin
lebih baik begitu, berulang kali tertusuk duri dan sembuh dengan seiring
berjalannya masa lalumu. Entahlah.
No comments: