BULLYGAMI
Pastinya
tak ada yang mau diri dan jiwanya tertekan oleh sesuatu yang paling perih. Dari
bulir-bulir wahyu yang katanya suci, malah membuat jiwa dan raga menjadi
semakin tergelincir dalam jurang kebencian menahun.
Pastinya,
kata tidak adalah hal pertama yang terlontar dari mulut yang merasa cinta dan
martabatnya terbelah. Namun ucapan janji-janji suci berpangkal surga seolah-olah
menginjak erat seluruh emosi. Ikhlas, hanya kata dan awalnya saja. Mungkin karena
setan-setanku semakin kuat menggagahi, secara perlahan rasa benci dan tak rela
menggunung ditengah-tengah buah dada. Bisikan orang-orang, kekaguman
orang-orang, lirikan orang-orang menjadikan diri terkebiri.
Tiap
malam adalah waktu jantung semakin kencang berdebar, akankah tubuh ini
tersentuh dan bisa merasakan kenikmatan bag jilatan lidah pada pangkal es krim
coklat. Tentu saja tidak, karena orientasi telah berubah, karena itulah diri
dan cinta ini dibelah untuk memenuhi nafsu-nafsu yang tak akan pernah dan bisa
dibelah-belah.
Menahun,
yang ada diri mencoba semakin mendekatkan diri pada kerelaan meski batin nyata
tersayat oleh tangan sendiri. Mencoba tegar dengan sapaan janji-janji surga
yang telah menanti jika kelak mati. Mungkin ini jalan menuju surga yang telah
terjanjikan dan bakal mendapatkan balasan puluhan perjaka yang siap menggagahi.
Budaya
dan ritual semi ini berkata memuliakan, tapi diri tidak lagi hidup pada jaman
dimana diri ini butuh untuk dimuliakan karena memang diri ini sudah setara atas
nama gender. Tak ada pilihan, bukan, selalu ada pilihan. Namun pilihan yang ada
pastinya akan membuat hati semakin tercabik-cabik pelik. Yang ada hanyalah
memotong jalinan yang telah tahunan terajut atau tetap menerima cekokkan
janji-janji surga yang bakal dipanen saat kelak mati.
Lagi-lagi,
yang ada hanyalah keindahan nafsu yang berias bias buas. Pilihan yang ada,
bisakan jika pilihan yang ada itu tak lagi menambah luka. Jika dari awal diri
menolaknya, mungkin tak akan perih, namun niatan yang telah terucap itu saja
sudah menyakitkan. Selamanya, selamanya diri-diri ini tetap akan terus diawasi oleh
nafsu-nafsu para diri-diri yang lainnya.
THE END
No comments: