Header Ads

Antrean Baca
recent

BULLYGAMI


Pastinya tak ada yang mau diri dan jiwanya tertekan oleh sesuatu yang paling perih. Dari bulir-bulir wahyu yang katanya suci, malah membuat jiwa dan raga menjadi semakin tergelincir dalam jurang kebencian menahun.
Pastinya, kata tidak adalah hal pertama yang terlontar dari mulut yang merasa cinta dan martabatnya terbelah. Namun ucapan janji-janji suci berpangkal surga seolah-olah menginjak erat seluruh emosi. Ikhlas, hanya kata dan awalnya saja. Mungkin karena setan-setanku semakin kuat menggagahi, secara perlahan rasa benci dan tak rela menggunung ditengah-tengah buah dada. Bisikan orang-orang, kekaguman orang-orang, lirikan orang-orang menjadikan diri terkebiri.
Tiap malam adalah waktu jantung semakin kencang berdebar, akankah tubuh ini tersentuh dan bisa merasakan kenikmatan bag jilatan lidah pada pangkal es krim coklat. Tentu saja tidak, karena orientasi telah berubah, karena itulah diri dan cinta ini dibelah untuk memenuhi nafsu-nafsu yang tak akan pernah dan bisa dibelah-belah.
Menahun, yang ada diri mencoba semakin mendekatkan diri pada kerelaan meski batin nyata tersayat oleh tangan sendiri. Mencoba tegar dengan sapaan janji-janji surga yang telah menanti jika kelak mati. Mungkin ini jalan menuju surga yang telah terjanjikan dan bakal mendapatkan balasan puluhan perjaka yang siap menggagahi.
Budaya dan ritual semi ini berkata memuliakan, tapi diri tidak lagi hidup pada jaman dimana diri ini butuh untuk dimuliakan karena memang diri ini sudah setara atas nama gender. Tak ada pilihan, bukan, selalu ada pilihan. Namun pilihan yang ada pastinya akan membuat hati semakin tercabik-cabik pelik. Yang ada hanyalah memotong jalinan yang telah tahunan terajut atau tetap menerima cekokkan janji-janji surga yang bakal dipanen saat kelak mati.
Lagi-lagi, yang ada hanyalah keindahan nafsu yang berias bias buas. Pilihan yang ada, bisakan jika pilihan yang ada itu tak lagi menambah luka. Jika dari awal diri menolaknya, mungkin tak akan perih, namun niatan yang telah terucap itu saja sudah menyakitkan. Selamanya, selamanya diri-diri ini tetap akan terus diawasi oleh nafsu-nafsu para diri-diri yang lainnya.

THE END

No comments:

Powered by Blogger.