Header Ads

Antrean Baca
recent

SEBERCAK MALAM


Anjing melolong di pinggiran jalan sepi tengah perumnas. Hiruk pikuk cahaya lampu pontang panting menerangi jalanan sepi. Seorang penjaga malam berkostum belang menjelajahi waktu malam, memutar-mutar lampu senter ke seantero jagad malam. Bintang-bintang yang bertaburan di kepalanya tak menjadi apapun. Sebercak malam yang biasa dan membosankan mulai membangunkan naluri yang telah lama terpendam dan tertimbun oleh moral.
Malam selalu seperti biasanya, gelap dan sunyi dengan lolongan anjing para tuan rumah. Kakinya terus berjalan menuju waktu satu pagi, dan apa yang selanjutnya terjadi bisa ditebak, bakal ada seorang gadis yang baru pulang bekerja, lembur tiap hari jumat. Mulutnya menyapa ramah sang gadis sembari memainkan lampu senternya. Sang gadis melontarkan senyum jua sembari berlalu dari balik pendar lampu jalanan. Namun sang penjaga malam tak urung melangkahkan kakiknya, terpatung dan terus memperhatikan sang gadis yang perlahan termakan gelap jalanan, hasrat gelap mulai menelan ludah.
Malam kembali lagi, seperti biasanya, alur waktu sudah menempel kuat di kepala. Waktu mulai melangkah ke pukul satu pagi. Sang gadis sudah dipastikan akan lewat jalan yang sama. Senyum dan sapa kembali dilempar, dan sang gadispun membalasnya juga sebagai rasa terimakasih karena merasa aman karena ada sang penjaga malam di sekitar perumahannya. Sang gadis terus berlalu menuju gelap-gelap nan jauh dari sorotan lampu jalanan. Namun tiba-tiba saja langkah sang gadis terhenti, mulut manisnya terbungkam oleh selembar tangan yang erat hingga tak bisa untuk sekedar berteriak layaknya lolongan angjing di malam hari.
Sang gadis mulai tersadar, kepalanya dipenuhi bintang yang berkunang-kunang. Sang gadis tersadar diatas tikar dengan ruangan yang temaram dengan lampu bohlam tua. Sang penjaga malam, sang gadis mendapati sang penjaga malam berdiri di sampingnya. Sang gadis meronta, mencoba berteriak namun kaki, tangan dan mulutnya tersumpal oleh segulung jerat usang. Sang penjaga malam mulai menghampiri, duduk di atas perut sang gadis dan mulai melakukan hal-hal yang sudah lama tersimpan rapi di otak. Satu, dua helai benang di tubuh sang gadis mulai dilucuti, dan tangan-tangan mulai mengendus ke seluruh tubuh sang gadis, menikmati tiap inchi bongkahan tubuh sang gadis hingga usang.

Sebercak malam, malam adalah gelap, meskipun jutaan bahkan milyaran lampu berpendar, tak akan pernah bisa mengusur gelap dari singgasananya. Tetap menajadi kunang-kunang adalah jalan terbaik untuk mengarungi malam-malam bersama lolongan anjing-anjing.

No comments:

Powered by Blogger.