Header Ads

Antrean Baca
recent

BERJUDUL AKU


Saat mendengar sebuah lagu, aku larut dan memudar dalam pusaran iramanya yang sungguh menyeret imajiku ke dasar lumpur pemikiranku. Dan aku adalah tema yang tersisa, karena memang diri ini tak akan pernah habis mengeluarkan daki beraroma kebusukan hati.
Aku, biar aku lebih kenal aku, maka ku tuliskan saja dalam rangkaian kisah singkat. Akulah segala keburukan yang memawakili manusia-manusia terbuang, dalam diri yang larut dalam sebuah lagu. Dulu aku bukanlah sosok sesampah ini, lambat laun aku pun pudar dan terjangkit entah virus apa hingga kini membusuk.
Tentunya semua manusia pastinya tak ingin membusuk di dalam dirinya. Namun akulah yang membusuk itu, aromaku membuat orang-orang di sekitarku menjadi hobi mencela dan mencaci aku. Aku hampir saja lepas, melepaskan semua yang ada dalam aku, namun gagal. Lepas, saat berbicara lepas, imaji terasa ringan dan pastinya akan ringan. Sadar, aku sendiri sadar kalau itu bukanlah jalan pintas terbaik yang ada. Alhasil, aliran darah di pergelangan tangan adalah harga yang bisa menebus semua rasa-rasa yang berwarna-warni itu.
Judulnya aku, tentunya tokoh utamanya dalam kisah singkat ini adalah aku. Siapa aku itu? Itulah kiranya joke yang bisa ku buat untuk menghibur aku saat menulis ini. tapi, aku itu bisa siapa saja, yang membaca kisah ini adalah aku. Jadi, aku adalah setiap orang yang membaca dan merasakan apa yang mungkin aku rasakan saat menulis ini. Aku sendiri mengaku aku yang sadar akan kegagalan dan kepayahan diri yang menempel pada aku ini. kalau bisa, aku ingin menjadi kau atau sebuah nama yang bisa dengan leluasa bisa menggerakkan aku bag dalang yang menggerakkanwayangnya, karena aku adalah wayang.
Duniaku, dunia yang dijalani oleh aku tak bisa dan selalu seperti yang aku harapkan, itu pasti. Maka dari itu aku adalah simbol pengekangan dari sang penulis kisah ini, dan penulis kisah itu adalah aku. Aku sendiripun merasa keakuan saat menjalani hidup, dan bernasib pada ketidak-aku-an yang menghantarakan aku pada ujung jurang keputus asaan. Menyedihkan.
Memang jurang yang bernama keputusasaan itu sangat menggetarkan. Bahkan aku yang sudah tak lagi ber-aku tetap kalap saat mendapatinya. Sekujur tubuh gemetar bag berdiri pada selembar papan ditepi dek kapal, maju terjebur ke laut dengan hiu-hiunya yang beringas, mundur sabit malaikat maut menanti untuk menggorok leherku. Jadi, bisahkan aku menjadi kau atau dia saja? Agar aku tak lagi keaku-akuan.

Aku, akankah kisah ku ini akan terus berjalan dengan aku atau akan membusuk dalam waktu yang sesungguhnya sangat kejam. Hanya aku yang yang tahu.

No comments:

Powered by Blogger.