PADA SERANGKAIAN SENJA
Pastinya
jalan-jalan yang berbahu kotor di kota-kota metropolitan tak akan pernah sepi
dari hiasan orang-orang lusuh yang mengais-ngais rupiah dengan beragam caranya.
Para pemalas dengan cara sendiri menyeret lusuh tubuhnya yang malas dengan
tangan yang menengadah saja. Dan ada beberapa orang senja yang dengan redup
sedunya menjajakan jajanan yang tak terlalu memikat.
Pada
suatu masa, ada seorang tua yang dengan rentannya memikul setumpuk tape sembari
melolong. Dengan bertelanjang kaki ia sengaja memanggang telapak kakinya
dipanasnya terik mentari kala itu. Fatamorgana jalanan memantulkan
bayang-bayang kegigihan sisa-sisa masa mudanya yang kelam, tak ada orang tua
nan renta yang masa mudanya benar-benar riang ku rasa. Mataku mengiba, meski
tak terlalu menyukai tape tapi rasanya tak salah jika membelinya barang sebuah,
hanya sekedar untuk melihat senyum tuanya yang berias keriput-keriput kusut.
Tangan-tangan
tua yang legam mengambilkan beberapa tape untukku. Dalam hati, banyak sekali
tape yang ku peroleh dari uang pembelian yang tak seberapa. Tape dengan bungkus
daun jati, sangat klasik. Aroma daun jati pembungkus tape itu mengingatkan ku
pada tumpukan-tumpukan kenangan yang telah lama terseimpat lusuh di otak
kecilku. Dulu, ayah sering sekali berli tape yang dibungkus daun jati, sama
seperti saat ini yang ku lakukan.
Sebuah
kota dengan beragam jeram yang membentang tak menyurutkan semangatnya dalam
mengarungi arus deras sang metropilitan. Dengan rentanya ia tetap melaju melaju
dan menerjang jejak-jejak hidunya sendiri. Sungguh berbeda dengan ku yang masih
saja mengutuk dan menggaruk kebiadaban diriku. Aneh.
Hanya
saja terkadang aku ini memang bodoh, sering sekali aku ini memberi lebih pada
para musisi bis yang sering aku tumpangi dan beberapa penyeret tubuh di jalanan.
Bodoh. Rasanya mereka-mereka itu masa bodoh dengan impian-impian yang ada, apa
memang mereka telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang
sangat berharga bagi para manusia di dunia ini.
Seorang
renta dengan sesuatu yang sangat berharga dan teguh dipegangnya hinga senjanya
sungguh meretakkan beton-beton yang katanya paling kokoh sekalipun, yakni
semangat masa muda yang selalu benderang terang. Masa yang penuh serapan energi
dahsyat dari dalam jiwa dan raga. Namun rasanya energi-energi muda tak
selamanya lenyap saat seseorang menginjak masa rentanya. Dan ia adalah salah
satu bukti bahwa hal itu memang ada dan patut dijadikan sosok.
No comments: