PUJA-PUJI
Berdengung,
setiap saat mengguncang di seantero dunia. Puja-puji yang mereka lambungkan mereka sebut puja-puja puji-puji
kepada sesembahannya. Namun tak lebih dari karaoke massal bagi ku yang mungkin
bukan bagian dari mereka.
Bahkan
yang sesama pun ada yang merasa terganggu dengan gema puja-puji mereka. Apa
yang ada di benak mereka? Apakah karena sesembahan mereka selalu duduk terdiam
di langitnya, makanya mereka harus melolong agar puja-puji mereka terdengan
hingga ke tempat sesembahannya. Apa mereka tak tau atau sengaja tak mau tau
bahwa sesembahan mereka itu Maha segala. Apa kerena itu pula mereka jadi takut
dengan ke-Maha-an yang dimiliki sesembahannya.
Manusia,
memang makhluk lemah yang akan selalu takluk oleh kekuatan yang lebih dari apa
yang mereka punya. Manusia adalah sejatinya pengecut, yang selalu menjilati
apapun yang bisa membuatnya lemah dan ketakutan untuk melindungi dirinya
sendiri dari terkam sang kuasa.
Hakekatnya,
manusia hanyalah binatang yang memiliki akal. Karena akal, manusia selalu
meraba-raba paha mulus masa depan demi menyalurkan nafsu serakahnya. Serakah,
adalah tuan dari segala bentuk kehidupan, dan manusia adalah rajanya, raja yang
bersanding gelar Maha Serakah dari semua makhluk.
Dari
puja-puji, menuju kepenjilatan demi sesuap pengampunan yang bahkan tak bisa
mereka rasa. Serakah itulah yang membuat manusia selalu mencari-cari hal yang
bisa membuatnya puas bahkan untuk kepuasan arwahnya kelak.
Dari
lain mata dan telinga, puja-puji mereka memang seperti karaoke tanpa
kerlap-kerlip. Puja-puji adalah refleksi sifat dasar manusia yang selalu
bermain petak umpet antara hati dan lisan. Puja-puji hanyalah nyanyian pengisi
kekosongan, puja-puji hanyalah sandiwara yang mengharap tepuk tangan. Karena
tak ada manusia yang benar-benar menyembah keikhlasan sejati.
No comments: