Header Ads

Antrean Baca
recent

PUJA-PUJI


Berdengung, setiap saat mengguncang di seantero dunia. Puja-puji yang mereka  lambungkan mereka sebut puja-puja puji-puji kepada sesembahannya. Namun tak lebih dari karaoke massal bagi ku yang mungkin bukan bagian dari mereka.
Bahkan yang sesama pun ada yang merasa terganggu dengan gema puja-puji mereka. Apa yang ada di benak mereka? Apakah karena sesembahan mereka selalu duduk terdiam di langitnya, makanya mereka harus melolong agar puja-puji mereka terdengan hingga ke tempat sesembahannya. Apa mereka tak tau atau sengaja tak mau tau bahwa sesembahan mereka itu Maha segala. Apa kerena itu pula mereka jadi takut dengan ke-Maha-an yang dimiliki sesembahannya.
Manusia, memang makhluk lemah yang akan selalu takluk oleh kekuatan yang lebih dari apa yang mereka punya. Manusia adalah sejatinya pengecut, yang selalu menjilati apapun yang bisa membuatnya lemah dan ketakutan untuk melindungi dirinya sendiri dari terkam sang kuasa.
Hakekatnya, manusia hanyalah binatang yang memiliki akal. Karena akal, manusia selalu meraba-raba paha mulus masa depan demi menyalurkan nafsu serakahnya. Serakah, adalah tuan dari segala bentuk kehidupan, dan manusia adalah rajanya, raja yang bersanding gelar Maha Serakah dari semua makhluk.
Dari puja-puji, menuju kepenjilatan demi sesuap pengampunan yang bahkan tak bisa mereka rasa. Serakah itulah yang membuat manusia selalu mencari-cari hal yang bisa membuatnya puas bahkan untuk kepuasan arwahnya kelak.

Dari lain mata dan telinga, puja-puji mereka memang seperti karaoke tanpa kerlap-kerlip. Puja-puji adalah refleksi sifat dasar manusia yang selalu bermain petak umpet antara hati dan lisan. Puja-puji hanyalah nyanyian pengisi kekosongan, puja-puji hanyalah sandiwara yang mengharap tepuk tangan. Karena tak ada manusia yang benar-benar menyembah keikhlasan sejati.

No comments:

Powered by Blogger.