DI BALIK JENDELA
Dari
balik tirai jendela ia hanya melihat sekitar matanya yang terasa asing.
Senyum-senyum yang bertebaran membuatnya semakin menyadari betapa senyum itu
memang telah lama tertutup oleh tirai yang ia sendiri tak tahu.
Hampir
setiap hari tak pernah ia lewati tanpa berdiri di balik tirai jendela. Hempasan
angin yang membelai tirai menyentuh pipinya, membawa sentuhan kenangan yang
telah lama ia tinggalkan dan ia buang jauh. Tawa-tawa dari mereka yang
berlarian menggemakan rindu akan sesuatu yang bahkan ia tak tahu kenapa bisa
merasa rindu.
Tatapannya
seolah meragu, akankah ia terus seperti ini, berdiri di balik tirai jendela dan
hanya bisa mengintip keindahan dunia nyata yang ditawarkan oleh dunia luar dan
menjadi asing. Atau ia bisa memilih untuk tetap menikmati hidangan yang
senantiasa membuatnya terseret ke dalam puing kenangan namun ia merasa senang.
Memang
tak ada yang salah dengan menjadi apa yang membuat ia menjadi nyaman dan
tentram. Namun pastinya setiap apa yang ia buat akan membuat hal lain juga akan meminta atau menerima
imbasnya. Seperti tirai jendela yang menjadi tempat ia menutupi senyumnya, lama
kelamaan tirai itu akan menjadi kotor dan bau karena menahan hembusan senyum
yang ia lontarkan dan meninggalkan plak karena sering ia jadikan penahan ingus
dan air mata.
Coba
keluar dan membuka jendela, sinar matahari akan menyinari sudut-sudut yang tak
bisa tersinari. Dan ia pun akan bisa melihat dan mendengar kicau burung dari
balik pepohonan yang juga menanti. Ia mulai memberikan apa saja yang ia bisa,
tanpa harus memperdulikan apa yang nanti akan ia imbaskan. Tetap berikan apapun
itu juga, asalkna itu baik untuk ia dan orang lain, karena kelak itulah yang
akan menjadi kekal, bukan sekedar bangkai yang terkubur debur kubur.
Pada
akhirnya, senyum di balik jendela akan lebih baik jika sudah waktunya. Yakni
saat dimana kaki dan tangan tak sanggup lagi berbuat. Dari balik jendela adalah
waktu yang harus dimiliki oleh siapapun diujung waktunya, selamanya.
No comments: