ELEGI JALAN LURUS
Mungkin saja aku keluar dari jalur
yang sudah ada sejak lama
Namun belum sepenuhnya keluar dari
jalur, hanya berjalan di trotoarnya
Sembari sesekali menertawakan
orang-orang yang terjebak oleh macet
Macet yang berulang hingga bersulang
pada tungku tunggu.
Tak terlalu buruk juga berjalan di
trotoar meski hati dan pikiran selalu diadu
Diadu domba oleh orang-orang yg ada
di tengah jalan
Yang diikat oleh rambu-rambu yang
meragu
Lantas dilanggar dengan seenaknya dan
semaunya
Namun masih mengaku-aku dengan
menjilat ludah sendiri
Dan aku yang berjalan di trotoar
sendiri nyengir tergigil dustaku
Pada tiang lampu yang membawa tiga
warna
Merah hanyalah simbol untuk sesuatu
yang memang patut untuk dicoba
Kuning hanyalah simbol untuk hal yang
meragukan
Dan hijau hanyalah simbol untuk ajang
pamer turunan dari langit
Di trotoar ku coba cari rambu yang
akan mengekang jalan kakiku
Namun tidak ada satupun rambu untuk
para pejalan
Lantas apa aku ini adalah orang yang
tak diri karena tak dirambui
Namun keegoisan orang-orang yg ada di
tengah jalan memang remang
Acap kali jalan kakiku dilindas dan
diterobos hingga roboh
Hingga terkadang dan pasti nyawalah
yang harus dilempar keluar
Padahal kaki-kaki yang berpijak ada
tepat di trotoar karena keputusan sendiri
Karena tak mau ikut-ikutan mendustai
rambu di tengah jalan
Dan mengakui kedustaan dari sebuah
rambu yang absurt
Dan mencari rambu sendiri yang akan
benar-benar membawa ketenangan
Untuk hati dan pikiran yang kau
kalutkan
No comments: