DARI LUBANG SANG PERAWAN
Dari sudut tergelap dari semua yang tertelan
oleh rasa sakit
Apakah garis merahku telah tercipta
oleh rentetan nafsu yang tak bertanggung jawab
Hingga aku diabaikan setelah tercipta
dalam remang-remang tiga bulan
Tanpa perlawan, tak bisa mengeluh
Rasa sakit yang kau timbulkan adalah
jalan pintasmu untuk menjaga kestabilan drajat
Masa bodoh jika khilaf adalah alasan
utamamu
Apa kau pikir segenggam nikmat yang
kau dapati itu tanpa kesadaran
Tanpa kerelaan, tak bisa mengeluh
Di dalam tubuhmu yang nyaman, dipeluk
rasa hangat yang nikmat
Aku tau semua keburukkan nikmat yang
kau rasa lantas kau dustai
Bersama dengannya yang tak kalah
anjing menggonggongi keberadaanku
Di ujung bulan ke empat, kau lepas
benang merahku bersama darah dan rasa sakitku
Aku yang menggigil mengunggu mati,
menghentikan detak jantung yang mulai bergetar
Lalu berakhir dalam bingkai kardus di
tepian belukar yang angker
Hingga membusuk menusuk hidung para
pejalan kaki
Tanpa pembelaan diri, tak bisa
mengeluh
Dusta dari sang penikmat dusta ego
Pemakan drajat tanpa mau menelan
dustanya sendiri
No comments: