Header Ads

Antrean Baca
recent

DI UJUNG MATA GIGIL


Jika ku lihat lagi para tawa yang menggema dalam liang waktu yang berlalu
Sesak dan serak menyeruak, menyibak semua rasa ego yang terlalu batu
Mengutuk aku yang terpatuk gerutu sang pembawa kehidupanku
Dan aku mengigil tergigit angin musim dingin yang hitam, yang terasa mematikan hati
Sendiri mencari sisa-sisa hatimu yang bertempat di ujung langit yang tujuh
Liarkan semua penghuni hati, menjadikanku patung es yang berkarat-karat
Yang hanya bisa mamatung meratapi lelehan egoku yang terpanggang panasnya hatiku
Di ujung mata gigil aku di sini mulai terbakar getar yang melingkar
Meringkuk dan tertekuk, mengetuk-ngetuk keajaiban pada dinding langit
Jika senja masih kemuning di ufuk barat, ikatkan aku pada tambatan roda reinkarnasi
Dan jika tak bisa membuang aku, maka akan ku kremasi sendiri sendi-sendi egoku
Agar senyummu berkembang lagi dalam jalur waktu yang menua
Dan bersama hilangnya keberadaan ku dalam alur waktumu
Biarkan ku rasakan lagi nikmat rindu dari sang pembawa sore yang lalu
Di atas tumpukan harapan, di atas rasa gatal yang ku rindukan
Adalah selalu di setiap senja menginjakkan sinarnya pada lorong kenanganku
Agar jawaban dari semua gigilku terhangatkan oleh kenang yang terukir di senjaku

No comments:

Powered by Blogger.