SEBUAH MUSIK
Alunan
sepi adalah rajam halus yang kini kian mendendangkan ratapan palu di dahi.
Iramanya porak-porandakan relung yang kalut berbalut kabut. Sikap para peramu
masa kian menikam alur waktuku. Mereka mendendangkan lagu-lagu yang tak ku suka
dan membuat aku hilang.
Tiap
bait yang tekandung dalam bait musik-musik terkadang adalah alur waktu yang
paling baik menyampaikan alunan parau hati yang tengah jengah. Ketukan
kesedihan sang drumer seakan detak jantung. Dalam gelap malam ini masih
menikmati musik-musikku secara tersembunyi, sebelum nanti mereka akan
mencekokiku dengan musik-musik mereka.
Adalah
aku yang kini mencoba bertahan dalam kepungan rasa minus yang membekukan
inginku yang baru saja tumbuh di tanah gembur bertabur sulur. Sialnya aku adalah
lemah yang tak bisa mempertahan telingaku dari lagu-lagu yang tak mengenakkan
telinga. Andai bisa ku lepas telinga ini, akan ku lepas kedua telingaku, biar
kudengarkan alunan musikku dalam hati dan lamunanku saja.
Ku
sendiri sadar bahwa ada ratusan mungkin jutaan aliran musik yang saling
berdendang di seantero dunia ini, tapi seantero dunia bagiku terasa sempit
karena mereka telah melahap semua lahan tempatku harusnya berekspresi dengan
musikku sendiri dan harus menelan kunyahan lagu-lagu mereka yang penuh lendir
anyir.
Biarkanlah
musikku ini berdendang riang nan girang tanpa ada senggolan dari siapapun.
Bolehlah kalian menikmati dan menghayati musik-musik kalian, tapi jangan sampai
membuat orang lain tergangu oleh kesengan kalian bahkan sampai memaksakan
kehendak bak diktator yang penuh dengan dogma.
Pada
akhirnya, musik-musikku tetaplah musik yang memang hanya bisa didengarkan oleh
hati dan lamunanku di tempat yang paling dalam, di hitamnya hati yang penuh
dengan belatung-belatung pemikiran ego kalian.
No comments: