Pada Rangkain Jemari
Pernah
sesekali terlintas di alam rayaku, sentuhan jemari kusut yang lekang oleh masa.
Dimana tiap helaiannya mampu menina-bobokan kegala gundah yang menggigit. Rasa
nyamannya tak tertandingi, bahkan oleh gundukan dada besar sekalipun. Disanalah
biduk anyamanku bisa lepas melepas segala gumamnya.
Rangkaian
jemari itu, rangkain jemari yang tak bisa dicari dan didapatkan oleh sang
pengembara hebat sekalipun. Dimana kiranya jemari-jemari itu bisa ku dapatkan
lagi setelah sekian lama jemari-jemari itu terkubur bersama belatung, dan kini
rasa yang paling ku benci tumbuh, kangen. Adalah kangen yang paling menyiksa
disaat jiwaku mulai rapuh terus bersendau-gurau bersama angin malam.
Meski
pada akhirnya, semua yang ada memang harus tidak ada untuk saling menyakiti.
Namun, sapata para penyair angin hanyalah kosong nan bolong, yang tak bisa ku
cerna dengan otak kecilku. Jemari itu, kalau boleh ingin ku pelihara saja
belatung-belatung yang telah melahap rangkain jemari yang indah itu, biar
menemani anganku di ranjang pesakitan ini.
Mungkin
ini gila, tapi rasanya tak terlalu buruk jika para belatung itu bisa mekukan
hal yang sama dan bisa memberikan rasa yang sama dengan jemari-jemari yang
telah dilahapnya. Biarkan aku menyimpan kotoran belatung-belatung yang
mengandung sari inti dari rangkaian jemari yang ku cari. Karena ia adalah
jemari yang hanya ada satu dalam sekali hidupku.

No comments: