Header Ads

Antrean Baca
recent

Pada Rangkain Jemari


Pernah sesekali terlintas di alam rayaku, sentuhan jemari kusut yang lekang oleh masa. Dimana tiap helaiannya mampu menina-bobokan kegala gundah yang menggigit. Rasa nyamannya tak tertandingi, bahkan oleh gundukan dada besar sekalipun. Disanalah biduk anyamanku bisa lepas melepas segala gumamnya.
Rangkaian jemari itu, rangkain jemari yang tak bisa dicari dan didapatkan oleh sang pengembara hebat sekalipun. Dimana kiranya jemari-jemari itu bisa ku dapatkan lagi setelah sekian lama jemari-jemari itu terkubur bersama belatung, dan kini rasa yang paling ku benci tumbuh, kangen. Adalah kangen yang paling menyiksa disaat jiwaku mulai rapuh terus bersendau-gurau bersama angin malam.
Meski pada akhirnya, semua yang ada memang harus tidak ada untuk saling menyakiti. Namun, sapata para penyair angin hanyalah kosong nan bolong, yang tak bisa ku cerna dengan otak kecilku. Jemari itu, kalau boleh ingin ku pelihara saja belatung-belatung yang telah melahap rangkain jemari yang indah itu, biar menemani anganku di ranjang pesakitan ini.

Mungkin ini gila, tapi rasanya tak terlalu buruk jika para belatung itu bisa mekukan hal yang sama dan bisa memberikan rasa yang sama dengan jemari-jemari yang telah dilahapnya. Biarkan aku menyimpan kotoran belatung-belatung yang mengandung sari inti dari rangkaian jemari yang ku cari. Karena ia adalah jemari yang hanya ada satu dalam sekali hidupku.

No comments:

Powered by Blogger.