PADA SEBUAH COMPANG-CAMPING
Langkah
kaki memaksa untuk berhenti sejanak karena letih menggelayuti otot kaki. Badan
bersandar pada sebuah badan jalan, nafas ku tarik panjang. Sekitar lalu lalang
kendaraan bag lalat pada sepotong bangkai.
Itu
keluarga, sekelompok compang-camping tengah melawan kerasnya jalanan yang
mengabaikan mereka. Melusuh pada hal yang tak sepatasnya mereka lusuhkan, dan
mengais belas kasih pada seorang tajir berlendir anyir. Terpotret pada sebuah
anganku akan makna sebuah harga dari diri yang katanya akan sangat mahal,
bahkan melebihi lumbung berlian jika kau bisa menemukannya, yang tersimpan di
dalam diri.
Lantas
mereka? Apa mereka hanya sebuah manusia? Yang harganya tak bisa bersaing dengan
sekarung cabe yang malah lebih selangit harganya. Hingga bisa membuat manusia kehilangan harga yang telah
dilabelkan oleh Tuhan semenjak mereka dilahirkan. Atau mereka adalah manusia
yang tak bisa menemukan harga atas dirinya hingga compang-camping adalah
ekspresi mereka untuk mendapatkan harga yang mereka sedang cari dalam proses.
Letih
mulai memudar, kaki-kaki siap untuk melanjutakan perjalanan. Ini bukan sok
klasik dengan mengadakan perjalanan ke pelosok kota dengan jalan kaki, tapi
memang ban bocor sungguh merepotkan. Tapi inilah harga dari sebuah ban sehat,
maka akan merepotkan satu hal lain yang harusnya tak perlu merasakan dampaknya.
Apakah pada sebuah compang-camping juga demikian?
Ku
rasa juga bergitu. Ku bilang begitu mungkin karena sudah kehabisan kata-kata
untuk menjabarkan isi di pikiran dan dengan senangnya bilang ku
rasa juga begitu untuk segera menyudahi perjalanan yang merepotkan dan
memalukan ini.

No comments: