TEH DAN SEPOTONG ROTI
Dengarkan
musik yang berisik di pagi hari dari atas kursi yang bergoyang-goyang. Dengan
wajah lusuh dan asbak yang penuh debu pembakaran paru-paru. Pagi akan terasa
lebih basi jika tanpa teh dan sepotong
roti yang nanti akan mengganjal perjalan hidup yang mungkin akan seperti
permainan ular tangga yang biasa dimainkan oleh anak-anak tahun 90-an. Naik dan
turun oleh langkah kaki yang memang sesungguhnya tak bisa tertebak. Namun tetap
saja harus menikmati permainan dunia, yang namanya permainan yang memang harus
dinikmati selayaknya teh dan sepotong roti.
Teh
dan sepotong roti, entah kenapa kalian bisa terlihat dan terasa mewah jika
dinimati di negara orang lain, terutama Eropa. Namun di sini, kalian tak lebih
dari makanan orang kurus dan berpenampilan. Sepotong roti, ya hanya sepotong. Sepotong
ini merupakan sisa potongan dari roti utuh yang sudah terpotong-potong sekian
minggu, dan potongan terakhir adalah yang paliang nikmat, dengan bumbu alami
berupa sisa ludah semut yang nakal mencuri sisa potongan terakhir dan beberapa
jamur yang tumbuh. Dan teh, ya benar secangkir teh dari cawan lusuh dengan
gagang yang sudah retak menggeretak. Yang terseduh pun daun-daun kering asli
teh yang tumbuh di pegunungan mewah dengan udara yang segar dan sinar mentari
yang jingga. Hanya seduhan daun-daun mangga yang rontok nan berserakan di
halaman rumah.
Mungkin
kau pikir aku pasti orang gila yang dengan sengaja menyeduh teh ku dari daun
kering mangga dengan makanan sepotong roti yang berjamur. Namun sungguh inilah
kenikmatan yang pasti tak pernah kau coba dan tak pernah kau coba dan ku
peringatkan untuk jangan pernah mencobanya jika perutmu adalah perut-perut
manja yang hanya bisa menelan dan memeluk sari-sari makanan yang sehat dan
menyehatkan. Orang tua ini hanya sekedar bergumam pada asap pembakaran
paru-paru yang mengepul menyesakkna tanaman bonsai.
THE END

No comments: