DREAMS KILLERS
Sang pembunuh mimpi, mungkin itulah hal yang patut untuk disematkan pada
pundak-pundak orang yang ngakunya sebagai orang tua. Bagaimana tidak, mungkin
orang-orang tua yang ada belum siap untuk menjadi orang tua sebelumnya karena
memang alasan untuk berumah tangga bukanlah untuk menjadi orang tua, melainkan
untuk menyatukan cinta mereka saja sehingga saat bibit sang anak lahir, mental
untuk menjadi orang tua kalah cepat dengan pertumbuhan sang anak, hingga orang
tua acap kali egois dalam menentukan mimpi-mimpi yang telah dikantongi sang
anak. Tentunya hal ini juga berlaku untuk orang tua yang berada di luar rumah
tangga, orang-orang tua yang tinggal di instansi-instansi juga tak kalah dalam
membunuh mimpi anak-anak yang diasuhnya, bisa saja karena alasan pekerjaan hingga hanya mengedepankan
rambu-rambu yang telah tertulis saja tanpa mau tau yang lain karena hakikatnya
mereka bukanlah anak-anak yang nyata, status orang tua yang disandang hanyalah
saat diinstansi saja. Tanpa memandang dan menyadari mimpi yang telah dikantongi
sang anak, orang-orang tua instansi terus saja membuatnya dan mengukir
mimpi-mimpi lain yang telah ditentukan oleh sang pembuat rambu-rambu tertulis,
hingga secara sadar atau tidak telah memaksa anak-anak untuk mengantongi
mimpi-mimpi lain karena telah terbiasa untuk dijejali sesuatu yang bukan
mimpinya secara laten terpaksa.
Memang, menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah karena beban yang
ditanggunya bukan sekedar finansial saja, namun juga dalam pembentukan karakter
untuk masa depannya karena orang tualah yang akan menjadi panutan pertama kali
dalam hidupnya. Bahkan dalam hal impian pun terkadang anak akan meniru orang
tuanya karena apa yang dilihat dari orang tuanya adalah sebuah kekaguman. Meski
apa yang dilakukan oleh sang orang tua bukanlah hal yang buruk, terkadang orang
tua akan tetap memberikan sekat yang mengikat dalam hal berkreasi atau
berekspresi, dan tanpa disadari hal itulah yang bisa membunuh impian yang baru
akan tumbuh.
Dan pada akhirnya, orang tua adalah tersangka utama dalam hal pembunuhan
impian selain dirinya sendiri yang menyerah dalam perjalannya menuju tangga
kedewasaan, entah karena telah lelah dengan impiannya sendiri yang tak kunjung
tumbuh setelah diinjak-injak oleh impian-impian yang ditanam oleh sang orang
tua semenjak kecil, hingga terkadang dalam perjalannya menuju tangga kedewaan
sang anak terpontang-panting dalam dera arus hatinya dan arus impian yang telah
lama ditanam. Memang tak ada orang tua yang menginginkan anaknya menjadi rumput
liar yang terbiar, mereka pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk anaknya.
Tapi, mengapa harus dengan membunuh impian yang telah dikantonginya? Kenapa
ttidak mendukung impian-impian itu agar sang anak bisa menjalani impian dengan
rasa bangga dan senyum karena dukungan dari orang-orang yang paling dekat
darinya. Jadi, mari menjadi orang tua yang cerdas!

No comments: