Sebuah Kesalahan
Aku dibunuh
Dibunuh oleh mulut orang terdekatku
Orang terdekatku yang terasa asing
Terasa asing meski telah hidup
bersama selama bertahun-tahun
Bertahun-tahun tumbuh dengan
cincangan dari mulutnya
Dari mulutnya yang selalu keluar
kata-kata yang menggerus
Menggerus jiwaku yang masih tumbuh
dan berkembang
Berkembang dari anak polos menjadi
pembenci
Pembenci yang membenci selaganya
karena mulutnya
Mulutnya yang tak pernah bisa
menyaring kata-kata yang keluar
Keluar dari jalur yang seharusnya
ditempuh oleh setiap orang
Orang-orang yang selalu aku dambakan
kehadirannya
Kehadirannya hanya menjadi sosok
asing, tak lebih
Tak lebih dari sekedar orang-orangan
yang malah membunuh
Membunuh jiwaku hingga aku menjadi
seorang pembenci
Pembenci apapun itu, semuanya
hanyalah omong kosong
Omong kosong yang selama ini ada
menjadi doktrin
Doktrin yang selalu mengikat jiwaku,
hingga masa depanku terasa buram
Buram karena aku telah lama mati
Mati ditusuk oleh kata-kata dari
orang-orang terdekatku

No comments: