Persimpangan Pagi
Dan pagi terbangun dengan nada-nada
yang memuakkan
Dengan jiwa yang masih tak utuh
Dicabik-cabik cibiran nada kekecewaan
Sedang diri hanya bisa tertahan di
ruang batas mimpi dan kenyataan
Mengutuk dan menggerutu diri yang
ditinggalkan hatinya
Terbangun dengan dada yang langsung
terpanggang
Menopang nada-nada cibir yang anyir
Hidup sebagai seorang yang tak sempurna
Hanya melahirkan kehancuran diri yang
lain
Tanpa ada pengertian yang kian hari
kian hilang, menjadi tak acuh
Acuh yang lalu berlalu menjadi
kericuhan di kepala
Menebarkan bibit kegilaan yang setiap
pagi tersirami cibiran
Hingga waktunya lepas, selama itu
diri adalah biang kegelisahan
Menunggu antara kewarasan dan ledakan
kegilaan yang sinting
Entah sampai kapan diri betah
tertahan di antara persimpangan itu
Antara terus berwaras-warasan
Atau menjadi gila lagi sinting
No comments: