Pendusta
Aku dan hatiku
Saling bertatapan memandang
dalam-dalam
Dan ku lihat satu titik jenuh yang
mulai gaduh
Mengobrak-abrik lembar hidupku yang
lalu
Dan satu kata tertempel tebal
Hingga bisa ku ulaskan satu senyum
geli
Yang menggelitik, satu kata itu
sungguh menggelikan
Pendusta
Ku ulangi lagi mengobrak-abrik
lembar-lembar using itu
Dan memang, jika ku telaah lagi kata
itu memang baru kali terasa
Terasa basi dan mulai mengernyitkan
hatiku yang sekarat
Tak ada lagi hal yang bisa dipercayai
Tak ada lagi kata-kata yang bermuatan
mutiara
Yang ada hanyalah omong kosong
Karena apa-apa yang ku lihat, ku
dengar, dan ku rasa
Semuanya hanya menjadi setumpuk
sampah yang serapah
Ah, aku benci diriku yang selalu berdusta
No comments: