Header Ads

Antrean Baca
recent

Pendusta


Aku dan hatiku
Saling bertatapan memandang dalam-dalam
Dan ku lihat satu titik jenuh yang mulai gaduh
Mengobrak-abrik lembar hidupku yang lalu
Dan satu kata tertempel tebal
Hingga bisa ku ulaskan satu senyum geli
Yang menggelitik, satu kata itu sungguh menggelikan
Pendusta
Ku ulangi lagi mengobrak-abrik lembar-lembar using itu
Dan memang, jika ku telaah lagi kata itu memang baru kali terasa
Terasa basi dan mulai mengernyitkan hatiku yang sekarat
Tak ada lagi hal yang bisa dipercayai
Tak ada lagi kata-kata yang bermuatan mutiara
Yang ada hanyalah omong kosong
Karena apa-apa yang ku lihat, ku dengar, dan ku rasa
Semuanya hanya menjadi setumpuk sampah yang serapah
Ah, aku benci diriku yang selalu berdusta

No comments:

Powered by Blogger.