Kibar Kabar dari Alam Imaji
Bocah-bocah itu menelanjangi kakinya
Dan menginjak-injak aspal yang panas
Lantas berteriak-teriak
Menyisakan riak-riak yang menggangu
sebagian
Di ujung bumi ibunya yang tak sempat
ia lihat wajahnya
Raga dan jiwanya dijadikan tambalan
Untuk tetap bisa menjunjung indah
selendang rok ibunya
Dan dengan tatapan yang tajam
mengiris langit
Dalam pikirannya ia sibuk memulung
kata-kata yang menjadi sampah
Kata-kata sampah yang dulu adalah berupa
sumpah
Yang sering ia dengar di radio-radio
bekas dengan rombeng suaranya
Dan bocah-bocah itupun tetap
mengibarkan ujung matanya
Di atas bumi ibunya yang masih saja
busuk
Namun tetap saja, kibar selendang rok
ibunya mampu memainkan sihir
Yang terus dan akan terus membuat
bocah-bocah itu bermandikan angan
Angan-angan semu yang semuanya
hanyalah khayal
Tanpa pernah akan bisa mewujudkannya
No comments: