Underlust
Aku menjadi mata ketiga
Melihat, mencoba merasakan hangat
nafsu yang terumbar rumbai
Mengamati setiap lekuk desah palsu
yang menggairahkan, ah!
Aku menyaksikan proses terbentuknya
aku dari manusia yang menggumpal
Menyumpalkan masing-masing hasratnya dalam-dalam
Meskipun itu penuh kepalsuan berbalur
erangan nikmat
Meski aku menjadi mata ketiga
Hembusan nafsunya yang terumbai-umbai
membasahi diriku
Hingga aku terseret dalam permainan gila
namun indah itu
Dan menjadi manusia yang benar-benar telanjang!
Dan merekah dalam kubangan angan
penuh kepalsuan
Aku menjadi mata ketiga, dan mencoba
tenggelam dalam permainannya
Aku menjadi lubang nafsu, aku menjadi
yang ditusuk-tusuk!
Aku menjadi penikmat kepalsuan nafsu
itu, aku menerima kepalsuan itu!
Dan menjadi yang tersiksa oleh
kepalsuan nafsu itu
Namun aku tak bisa aku tak sunggup
untuk menyelam lebih dalam lagi
Dan hanya mengambang di permukaan
saja
Dan hanya menjadi mata ketiga yang
selalu mengamati dan melihat
Dalam permainan nafsu yang penuh
kepalsuan
No comments: