Seorang Anak dan Bapaknya
Tumbuh dengan mulut yang terdiam
Menggengam semua mimpi yang kesiangan
di matanya
Dan hari-hari yang berlalu tanpa acuh
Menjadikan hari-hari yang berlalu
menjadi layu dan mati
Hingga tapak kakinya mulai kekar
Hati yang sedari dulu bisu membatu
oleh kutukan kebencian
Akan sosok yang selalu ada namun
kosong
Menjadi semakin batu hingga
meremukkan mimpi di mata
Seorang anak yang merindukan sosok
bapak yang nyata
Sosok yang selalu keren di mata
buku-buku cerita
Tak pernah ada meski sosok tubuhnya
nyata
Tubuh yang nyata namun kosong, tak
lebih dari penebar bibit kebencian
Sosok dengan mulut yang selalu
mengunci kata-kata kebaikan
Bukanlah sosok yang keren, terlebih
tindakannya tak sepanjang jembatan
Mungkin akan lebih baik jika mulut
yang terkunci
Namun laku masih berkesan dan nyata
No comments: