Header Ads

Antrean Baca
recent

Seorang Anak dan Bapaknya


Tumbuh dengan mulut yang terdiam
Menggengam semua mimpi yang kesiangan di matanya
Dan hari-hari yang berlalu tanpa acuh
Menjadikan hari-hari yang berlalu menjadi layu dan mati
Hingga tapak kakinya mulai kekar
Hati yang sedari dulu bisu membatu oleh kutukan kebencian
Akan sosok yang selalu ada namun kosong
Menjadi semakin batu hingga meremukkan mimpi di mata
Seorang anak yang merindukan sosok bapak yang nyata
Sosok yang selalu keren di mata buku-buku cerita
Tak pernah ada meski sosok tubuhnya nyata
Tubuh yang nyata namun kosong, tak lebih dari penebar bibit kebencian
Sosok dengan mulut yang selalu mengunci kata-kata kebaikan
Bukanlah sosok yang keren, terlebih tindakannya tak sepanjang jembatan
Mungkin akan lebih baik jika mulut yang terkunci
Namun laku masih berkesan dan nyata

No comments:

Powered by Blogger.